Wednesday, May 11, 2011

Sebuah Kekeliruan


Perempuan sialan itu aku dorong saja sampai terpuruk di atas tanah. Ia memang istriku,tapi sudah tak ku anggap dia sebagai apa-apaku lagi. Aku menyesal telah menikahinya. Hidupku yang dulunya makmur sekarang malah jadi berantakan.
Aku sudah tak tahan menghadapi semua persoalan yang kini aku hadapi. Lebih baik,aku tinggalkan saja dia disini supaya dia mati kelaparan dan kedinginan. Aku bahkan sangat rela kalau perempuan itu mati secepatnya.
Saat pertama kali aku langkahkan kakiku,rasa lega begitu menyelimuti hatiku. Aku pergi tanpa menoleh ke belakang sedikitpun. Bagiku yang lalu hanyalah bayangan yang bisa hilang begitu saja dalam benakku.
Aku berlari ke pinggir jalan dan menunggu angkutan kota yang barangkali melewati jalan ini. 10 menit berlalu tanpa ada kendaraan yang lewat. Aku baru tersadar kalau sekarang sudah jam 11 malam. Karena aku sudah lelah menunggu,maka aku putuskan untuk berjalan menyusuri jalanan sepi malam itu.
Aku merasa ada seseorang yang sengaja mengikutiku dari belakang. Ia mengendap-endap bagaikan pencuri. Aku hanya berkeyakinan kalau itu hanyalah angin yang tak sengaja berlalu di belakangku.
Malam terasa begitu mencengkram. Jalanan terasa sunyi dan sepi. Hawa kematian begitu menyesakkan batinku. Aku berlari begitu cepat hingga tubuhku terasa melayang di atas awan.
Bulu kudukku terasa bergetar begitu hebatnya. Walaupun aku berusaha untuk menyingkirkan pikiran burukku. Tapi tetap saja kegelisahan akan keselamatanku mengalahkan akal sehatku.
Dari belakang ada sebuah bayangan yang terus mengikutiku. Aku sempat berpikir kalau bayangan itu adalah bayangan pembunuh bayaran yang disewa istriku untuk membalaskan dendam padaku.
Akan tetapi,aku segera menepis semua prasangka burukku itu. Sejahat-jahatnya dia,tapi ia tak mungkin bisa berbuat sekeji itu pada suaminya sendiri.
Napasku yang mulai terengah-engah tak aku hiraukan. Aku terus saja berlari tanpa ku tahu kemana arah yang sedang kutuju. Selang beberapa lama,kakiku mulai terasa sangat berat hingga ku kira bobot tubuhku bertambah banyak dalam waktu yang sangat singkat.
Hingga akhirnya aku benar-benar tak kuat membopong tubuhku sendiri dengan kedua kakiku. Aku terkapar diatas tanah. Dalam anganku dunia seperti berputar-putar tak tentu arah.
Begitu sadar,aku sangat terkejut karena aku sudah terbaring lemah diatas ranjang dan didalam ruangan yang tampak asing bagiku. Dari luar,aku bisa mendengar percakapan orang-orang yang terasa begitu bising di telingaku. Beberapa menit berselang,hingga aku mulai bisa mengenali dimana aku sekarang.
Rumah Sakit.ya….. hanya kata itu yang bisa aku ungkapkan untuk mendeskripsikan tempat ini. Tapi kenapa aku bisa berada di tempat ini dan apa yang aku  lakukan di tempat yang aku harap tak pernah ku datangi ini.
Sudah 15 menit berlalu tanpa ku tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang terus terngiang di telinggaku. Hingga tiba-tiba pintu ruangan rumah sakit berderit lumayan kencang dan ada sebersit bayangan orang dibalik pintu.
Aku coba bertanya siapa dia walau tenggorokan terasa begitu serak.
“siapa itu?”
Dan keluarlah sesosok laki-laki setengah baya yang memakai pakaian compang-camping. Dari perawakannya,sepetinya dia orang baik-baik. Ia tak segan menjawab pertanyaannku tadi
“saya Rohman”,jawab laki-laki itu dengan nada yang sangat rendah. Hampir seperti berbisik.
“Rohman siapa?sepertinya aku tak pernah mendengar namamu”
“ma’af,saya memang tidak mengenal anda. Tapi kemarin malam saya menemukan dompet anda tergeletak di pinggir jalan. Saat saya ingin mengembalikannya,anda malah berlari tanpa saya tahu sebabnya. Saya mengejar anda hingga anda tiba-tiba pingsan di pinggir jalan”,tuturnya tanpa mengurangi sopan santunnya kepadaku
“oh……… saya minta ma’af karena sudah berburuk sangka kepada anda. Dan saya juga berterimakasih atas bantuan anda. Entah apa jadinya pada diri saya jika anda tidak menolong saya”
“sama-sama”
Aku malu setengah mati setelah mendengar penjelasan Rohman. Orang yang sudah menyelamatkan nyawaku. Sejak saat itu aku dan Rohman berteman baik. Aku juga sudah mulai melupakan kenangan buruk tentang istri yang aku tinggalkan dulu. Aku berharap ini adalah akhir dari masalah buruk yang aku lewati didalam hidupku ini.

No comments:

Post a Comment