Thursday, September 8, 2011

Sinopsis My Princess episode 1 part 2



"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Lee Seol.
"Ada dokumenku yang tertinggal jadi aku akan mengambilnya." jawab Nam Jung Woo. "Kau sendiri?"
"Aku.. Aku juga ada sesuatu yang tertinggal." jawab Lee Seol berbohong.


Prof. Nam Jung Woo melihat Lee Seol membawa mie, tapi Lee Seol segera menyembunyikan mie itu di belakangnya.
"Aku sangat kedinginan, bolehkah satunya lagi untukku?" ucap prof. Nam Jung Woo seraya tersenyum.



Lee Seol dan Prof. Nam Jung Woo makan mie bersama di ruang organisasi. Lee Seol tentu saja sangat senang, ia makan seraya tersenyum lebar.
"Ah.. Ini sangat lezat." ucap prof. Nam Jung Woo.
"Benar.." Lee Seol kembali memakan mienya. Kemudia ia bertanya pada prof. Nam Jung Woo.  "Prof. kenapa kau belum menikah?"
"Karena mungkin popularitasku akan hilang kalau aku menikah."
"Ah, kau berbohong. Kalau wanitamu tau kau berkata seperti itu, sangat cemaslah dia. Prof. Aku dengan pacarmu itu sangat cantik?"
"Benarkah?"
"Jadi, ia tidak cantik?"
"Tidak. Ia cantik."
Lee Seol merengut, "Oh aku tahu. Tapi, bagaimana dengan stylenya. Apa dia innocent? Sweet? Cute? Sexy?"





Prof. Nam Jung Woo mengalihkan pembicaraan, "Kalau kau sudah selesai pulanglah. Kau pulang dengan bus, mobil?"
"Biar prof. saja yang pulang terlebih dulu.."
"Kenapa?"
"Ah.. Senior memberikan tugas untuk menata dokumen. Tapi aku belum juga menyelesaikannya."
"Baiklah.. Ah, ia ada selimut dan bantal di ruang sebelah." ucap prof. Nam Jung Woo seraya berlalu, tidak lupa ia juga tersenyum ke arah Lee Seol.



Setelah prof. Nam Jung Woo pergi, Lee Seol menyadari sesuatu, "Huh? Bagaimana bisa dia tahu kalau aku akan tidur di tempat ini?"





Lee Seol tidur nyenyak di atas sofa dengan selimut dan bantal yang disarankan oleh prof. Nam Jung Woo. Tapi kemudian ia terbangun dan berjalan ke ruangan prof. Nam Jung Woo. Ruangan itu tidak jauh dari ruang organisasi. Lee Seol masuk ke ruangan prof. Nam Jung Woo, ia memperhatikan ke sekeliling dan kemudian duduk di kursi prof. Ia melihat buku yang tergeletak di atas meja.
"Ah.. Ini pasti buku yang ditulis oleh prof. Nam Jung Woo.. Cute sekali. Walaupun dia yang menulisnya tapi ia juga tetap membacanya."



Lee Seol melihat ke sisi buku itu, di sana tertulis nama Oh Yoon Joo. "Oh Yoon Joo.. Oh Yoon Joo. Oh Yoon Joo?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Karena penasaran, Lee Seol membuat status di web,
Isi pesannya.

Siapa yang tahu Oh Yoon Joo, co-author dari The Last nameless Prince?

Balasan :
Aku belum membaca buku itu.
Itu nama ibuku.
Itu nama pacar pertamaku.
Kerjakan saja tugasmu.
Bukankah itu direktur dari Museum Hae Young.



Balasan yang terakhir membuat Lee Seol tertegun.
"Museum Hae Young. Apa dia benar-benar seorang direktur? Ah.. tidak-tidak.. Rumor itu menyebar dengan begitu saja. Itu hanya rumor."


Ada balasan lagi.
"Dia adalah orang yang paling banyak di cari di web. Lihat computer.. Go-Go."




Langsung saja Lee Seol memeriksa komputer, kemudian ia mendapati foto Yoon Joo yang dijadikan wallpaper desktop milik prof. Nam Jung Woo.





Lee Seol kesal. Ia membalikkan kursinya lalu kembali membuat status.
Isi pesannya.

Bagaimana cara agar aku bisa memisahkan priaku dengan wanita lain?

Balasan :
Percaya dirilah untuk menyingkirkannya.
Kirimi ia pesan yang menyakitkan.
Percaya saja pada pacarmu.
Buatlah dia jealous.
Apa dia cantik. Apa wanita cantik itu menyukai pria playboy?



Karena Lee Seol sangat penasaran dengan Yoon Joo jadi ia memutuskan untuk pergi ke Museum Hae Young. Museum itu baru saja dibuka pagi ini. Lee Seol masuk ke dalam museum, di pintu masuk ia mendapatkan panduan. Lagi-lagi di panduan itu juga terdapat foto Yoon Joo.

Lee Seol masuk ke dalam museum, Museum itu terlihat padat dengan pengunjung. Tak jauh dari tempatnya berdiri, tepatnya di atas panggung, Yoon Joo tengah melayani para wartawan yang sedang memotretnya. Lee Seol melihat ke arah Yoon Joo, kemudian ia mencocokkan foto yang ada di panduan dengan Yoon Joo yang berdiri di atas panggung.



Karena dirasa sudah mendapatkan cukup informasi, maka Lee Seol pergi.  Tapi, kemudian, ia malah bertemu dengan Park Hae Young. Park Hae Young berjalan ke arahnya, tapi Lee Seol segera berlari menghindari Park Hae Young.

Lee Seol berlari ke arah lain, ia memutari lantai atas yang berbentuk spiral. Otomatis, jalan utama yang dilewati oleh Lee Seol adalah tempat dimana Yoon Joo tengah dipotret. Tanpa sengaja dan tanpa tau hal itu, Lee Seol menabarak Yoon Joo. Alhasil para wartawan ikut memfotonya. Yoon Joo tidak marah dengan hal itu, ia malah tersenyum ke arah Lee Seol. Kemudian Yoon Joo pergi ke tempat lain diikuti oleh para wartawan.




Lee Seol lega sekali saat Yoon Joo dan para wartawan pergi. Tapi malangnya, saat Lee Seol berbalik, ia malah bertatap wajah dengan Park Hae Young. Lee Seo kaget setengah mati.
"Akhirnya kita bertemu lagi." ucap Park Hae Young. "Kita bertemu lagi ditempat yang tidak diinginkan.
"Ah, aku hanya ingin memuaskan rasa penasaranku saja." jawab Lee Seol.
Apa kau mengikutiku?" tanya Park Hae Young dengan curiga.
"Kenapa aku harus melakukan hal itu?" jawab Lee Seo segera pergi.
"Tapi kenapa kau malah menghindariku sekarang?" tanya Park Hae Young lagi.
"Ah, aku hanya tidak ingin bertemu dengan pria yang..." kata-kata Lee Seol terputus saat melihat Yoon Joo berjalan ke arahnya. Padahal Yoon Joo sedang menyambut tamunya yang datang.



Hahaa.. Lee Seol terlalu berlebihan, ia bahkan bersembunyi dibalik badan Park Hae Young.
"Ada apa?" tanya Park Hae Young.
"Orang itu. Aku pikir ia akan datang menghampiri."
"Huh?"
"Kau mengenalnya?" tanya Park Hae Young.
"Sebenarnya tidak, tapi yeah.. Kau tau, dia adalah direktur museum ini. Gzz... Ia sangat canti difoto tapi sebenarnya ia bukan wanita yang baik." ucap Lee Geol.
"Apa? Dia benar-benar cantik." jawab Park Hae Young.
"Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu. Dia malah terlihat lebih seperti serigala. Dan dia juga masih sangat muda, apa kau percaya kalau dia itu adalah direktur. Kau tahu, musium ini adalah milik Dae Han group, benar? Dia menamakan museum ini dengan nama anaknya."
"Hmm.. Mungkin bukan nama anaknya tapi nama cucunya. Cucunya bernama Park Hae Young." Park Hae Young membenarkan perkataan Lee Seol yang salah.


Lee Seol berpikir, "benarkah? Ah benar-benar.. Aku pikir, dia adalah kekasih dari salah satu penerus perusahaan Dae Han atau sesuatu yang berkaitan dengan perusahaan itu." Ucapan Lee Seol terhenti saat melihat Yoon Joo berjalan ke arahnya. Ia kembali bersembunyi di belakang Park Hae Young.


Yoon Joo tersenyum ke arah Park Hae Young. "Ah kapan kau datang?" tanya Yoon Joo dengan sangat ramah.
"Ah, baru saja. Kau pasti sangat sibuk melayani pengunjung." ucap Park Hae Young.

Melihat Park Hae Young dan Yoon Joo sedang berbicara, Lee Seol mengambil kesempatan itu untuk pergi, tapi kemudian Park Hae Young segera menarik kerah bagian belakang baju Lee Seo dan menariknya hingga Lee Seong berada di sampingnya lagi.



"Siapa ini?" tanya Yoon Joo dengan ramah.
"Ah, dia temanku yang sangat tertarik padamu." ucap Park Hae Young.
Lee Seol tidak berkata apa-apa, ia malah shock.
"Ayo cepat berikan salam." Park Hae Young memukul punggung Lee Seol, memaksanya untuk mengucapkan salam.
"Halo. Senang bertemu dengan anda." ucap Lee Seol.
"Senang bertemu dengan anda juga." jawab Yoon Joo.
Kemudian, salah seorang staff menghampiri Yoon Joo untuk berbicara dengannya sebentar. Yoon Joo pamit untuk bisa berbicara dengan staff itu.



Lee Seol penasaran, "Kalian sudah saling kenal? Bagaimana bisa kalian saling kenal?"
"Dia adalah pemilik cincin itu." jawab Park Hae Young.
"Apa.. tu.. tu.. tunggu dulu. Lap itu??"
"Hmm.."
"Ah.. bagaimana dengan nasib proffesor." ucap Lee Seol yang mencemaskan professor.
"Apa?" tanya Park Hae Young tidak mengerti.
"Ah tidak.."
"Wanita itu adalah calon menantu dari pemilik perusahan Dae Han." ucap Park Hae Young pada Lee Seol.
"Benarkah? benarkah?" Lee Seol senang mendengar hal itu, itu berarti saingannya untuk mendapatkan prof. sudah berkurang.
"Ah gzz.. sepertinya kau benar-benar tidak ingin menikah. Kenapa kau sesenang itu." tanya Park Hae Young yang aneh melihat kelakuan Lee Seong.


Lee Seol mengalihkan pembicaraan,
"Aigoo.. Kenapa bisa begitu.. Ah, apa kemarin berhasil? Apa sarung tangan lap itu berhasil, benarkan?"
"Tidak. Aku tidak bertemu dengannya, dia sudah pulang terlebih dulu." jawab Park Hae Young.

Lee Seol memukul pelan lengan Park Hae Young. "Ah, kau ini. Lebih kau ke rumahnya saja saat itu, itu hal yang sangat baik. Ah, benar.. Kalau kau ingin merayakan ulang tahun anak pertamamu itu, lebih baik kau melakukan hal ini. Untuk membuat hati wanita luluh adalah dengan.. Kecemburuan."
"Kecemburuan?"
"Ayo kita lihat hal itu berhasil atau tidak. Kau tahu, saat kau tidak memperkenalkanku padanya, ia akan menatapa lurus ke araku dan berkata "Siapa dia""?
Park Hae Young hanya tersenyum mendengar penjelasan Lee Seol.




Setelah berbicara dengan berbagai tamu, ia segera kembali menemui Park Hae Young dan Lee Seol.
"Sebenarnya siapa dia?" tanya Yoon Joo dengan ramah.

Lagi-lagi Park Hae Young terperangah karena kali ini tebakan atau tips cinta dari Lee Seol berhasil.





"Ya, aku adalah kekasihnya. Namaku Go Eun Byul." jawab Lee Seong dengan mendekap tangan Park Hae Young erat.
Kecemburuan mulai terlihat di wajah Yoon Joo. Ia berkata, "Ah.. Oppa, tanpa sepengetahuanku. Kau akhirnya mendapatkan kekasih."
Park Hae Young malah bingung harus menjawab apa, karena sudah kepalang basah maka ia meneruskan siasat yang dibuat oleh Lee Seol. "Ah, mungkin aku sudah melakukannya. Lihat, bukankah ia cantik?"



Mereka berbincang-bincang di sebuah restaurant. Pelayan menghidangkan dessert. Dan Lee Seol kembali dengan bualannya yang terlalu berlebihan. "Oppa sudah menceritakan padaku banyak hal tentangmu."
"Benarkah? Tapi, Oppa tidak pernah membicarakan tentangmu." jawab Yoon Joo.
"Ah, itu karena oppa terlalu melindungiku, ia sangat cemburuan. Ia selalu memanggilku 'my little princess'. Ia juga sudah gila, karena ia ingin aku masuk ke dalam kantong sakunya sehingga ia bisa bertemu dan melihatku hanya untuknya sendiri."



Yoon joo menutupi rasa cemburunya dengan mengaduk-aduk minumannya lalu meminumnya. "Jadi, apa yang diceritakan oppa tentangku?"
"Tidak ada yang special. Hanya mengenai banyak rumor yang beredar karena kau telah menjadi direktur di usia muda. Tapi, semua rumor itu tidak benar. Dan ia juga mengatakan kalau kau seperti rubah dan memiliki banyak hubungan dengan banyak pria. Dan pada akhirnya ia berkata, kalau sangat sulit untuk membedakan dirimu dengan malaikat." ucap Yoon Joo yang selalu membuat perkataannya berlebih-lebihan.



Hahaa.. Tapi Park Hae Young tidak menanggapi serius semua bualan Lee Seol.

Yoon Joo tersenyum mendengar perkataan terakhir Lee Seol. "Benarkah kau mengatakan hal itu?"
"aHhH.. Ya, kau memang sangat sulit untuk dibedakan dengan malaikat." jawab Park Hae Young.
Lee Seol melirik ke arah Park Hae Young, ia memberikan isyarat kalau seharusnya Park Hae Young tidak berbicara seperti itu. "Ah.. Oppa memang seperti itu. Ia sangat tidak bisa untuk mengatakan hal buruk saat berbicara pada orang lain. Ah, oppa bagaimana kalau kita makan malam di rumahku. Baiklah. Aku akan menelpon ibuku dulu."
"Ya. Pergilah, telepon ibumu." ucap Park Hae Young.
Lee Seol pergi, Park Hae Young terlihat kaku saat berbicara berdua dengan Yoon Joo. Seorang asisten menghampiri Yoon Joo dan berkata kalau sebentar lagi acara pembukaan akan dimulai.



Lee Seol berlari ke arah Park Hae Young seraya memanggilnya dengan manja, "Oppa.. Oppa.. Oppa.. Ibuku telah membuatkan ayam special untuk kita." ucap Lee Seol.
"Ah, tidak usah.." Park Hae Young memaksakan senyum.
"Huh, bukankah sudah waktunya kau untuk pergi?" tanya Lee Seol pada Yoon Joo yang masih belum juga beranjak dari tempat duduknya. "Kenapa kau masih ada di sini?"
"Ah, baiklah. Aku permisi dulu" ucap Yoon Joo.
"Ya, bekerja keraslah." kata Park Hae Young menyemangati.
"Senang berjumpa denganmu. Lain kali datanglah, aku akan mentratrirmu dengan makanan lezat." ucap Yoon Joo pada Lee Seol.



Lee Seol dan Park Hae Young berjalan beriringan menuju pameran.
"Apa yang dikatakan direktur? Apakah direktur terus menanyakan tentang diriku?" tanya Lee Seol.
"Tidak." jawab Park Hae Young dengan ringan.
"Ah, itu aneh. Bukankah seharusnya dia benar-benar cemburu."
"Bagaimana bisa ia cemburu padamu, kau itu bukan saingannya."
"Apa?! Saat kau membandingkan aku dengannya. Pertama.. Pertama adalah aku lebih muda.. benar.."
"Ya."
"Dann.. dan.. Tinggi badan.. Aku lebih pendek.. dan uang.. Ah.. aku tidak punya uang yang banyak." Lee  Seol menyadari kalau apa yang dikatakan Park Hae Young ada benarnya juga. "Ah, bagaimana dengan kulit? Kulitku lebih bagus kan?"
Park Hae Young diam.
"Ah, baiklah kalaupun tidak, lupakan saja." jawab Lee Seol."
"Tapi kenapa kau sangat ingin mengetahui tentangnya?" tanya Park Hae Young penasaran.
"Karena tentunya aku.." kata-kata Lee Seol terputus saat melihat Prof. Nam Jung Woo juga hadir di acara ini. Ia berbaur dengan tamu-tamu yang lain. Prof. juga membawa satu buket bunga.



"Ah.. ada apa?" tanya Park Hae Young yang heran melihat Lee Seol yang tiba-tiba bersembunyi di belakangnya.
"Ayoo.. ayo. Cepat.. cepat.." Lee Seol menarik-narik tangan Park Hae Young, mereka berjalan menaiki anak tangga dan berada di atas.
Park Hae Young hanya pasrah tangannya ditarik seperti itu.



Park Hae Young dan Lee Seol melihat acara pembukaan dari lantai atas.
Yoon Joo adalah orang kehormatan di acara ini, bukan hanya sebagai direktur tapi ia juga pemilik museum.
Yoon Joo memasuki pelataran panggung.
"Presiden datang." ucap asisten. Kemudian para tamu bertepuk tangan dengan riuh.



Semua perhatian tertuju pada Yoon Joo yang mulai menaiki mimbar untuk berpidato. Tapi Lee Seol malah terus memperhatikan Profesor. Ia cemburu karena Prof. terlihat senang melihat Yoon Joo.

Yoon Joo mulai berpidato setelah riuh tepuk tangan terhenti, "Hallo.. Aku Direktur dari Museum Hae Young, Oh Yoon Joo. Saat itu pembangunan museum dilakukan karena untuk mengembalikan kejayaan Korea. Dan, kali ini, mohon para hadirin mengingatnya.." Yoon Joo menghentikan pidatonya dan berjalan ke tengah panggung. Ia berada di samping sebuah benda yang tertutup rapat tirai.


Yoon Joo tersenyum pasti sebelum membukanya. Saat tirai benda itu dibuka, semua orang berdecak kagum kecuali Prof. Nam Jung Woo. Prof Nam Jung Woo terlihat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, ia juga kesal. Yoon Joo menatap tajam ke arah proffesor dengan senyum yang dipaksakan.


Yang ditunjukkan Yoon Joo saat itu adalah sebuah tulisan kuno yang sudah sangat dicari oleh banyak orang. Yoon Joo berkata dengan bangga, "Ini adalah tulisan tangan dari Raja Soon Jong. Dia memiliki sebuah legitimasi pada anak laki-lakinya dengan diberikan nama Lee Young. 20 tahun perayaan museum ini, kami bisa menghadirkan sebuah harta karun yang tidak ternilai harganya. Dan aku sangat senang." Seluruh hadirin bertepuk tangan dengan riuh. Kecuali proffesor, ia malah pergi meninggalkan acara itu.
Lee Seol yang melihat proffesor seperti itu menjadi sangat cemas.



Park Hae Young melihat ke arah Lee Seol, Lee Seol tengah memperhatikan tulisan kuno yang terpampang besar di layar di depannya. "Ada apa?"
"Itu.. Tulisan itu.. Aku rasa, aku pernah melihatnya." ucap Lee Seol mencoba mengingat-ingat sesuatu.
"Mungkin kau melihatnya di salah satu web, atau di internet, ada dokumen dan itu hanya gambar.."
"Ah, tidak. Aku rasa di rumahku juga ada benda seperti itu. Benda itu besar dengan dua karakter tulisan yang sama dengan yang ada di sana." ucap Lee Seol mencoba memastikan sesuatu.
"Di rumahku ada berton-ton seperti itu." ucap Park Hae Young meledek.
"Ah, apa maksudmu? Sangat kekanak-kanakan. Dirumahku juga ada berton-ton patung budha."
"Benarkah?"
"Whoaa kau ini.. Baiklah.. Ayo kita selesaikan semua ini di satu tempat." ucap Lee Seol.
"Apa maksudmu." tanya Park Hae Young tidak mengerti.
"Karena aku sudah melakukan semua ini, paling tidak kau memberikanku makan."





Park Hae Young dan Lee Seol makan di sebuah kedai kecil, whoaa.. kalau liat orang korea makan mie, ngiler sangaat.. XD
Mereka makan dengan nikmat, tiba-tiba Park Hae Young mendapat telepon dari Yoon Joo. Park Hae Young hendak mengangkat telepon itu, tapi Lee Seol segera merebut handphone Park Hae Young.
"Hei, apa yang kau lakukan." ucap Park Hae Young.
"Ah, kau bodoh. Ini terlalu cepat. Kau harus lebih tegas agar ia cemburu."
"Sini. cepat.. cepat.. Dia akan segera menutupnya."
Lee Seol semakin menyembunyikan handphone itu di belakangnya.
"Sudah, kerjakan saja apa yang aku katakan agar hubungan cinta kalian berdua tetap abadi." Lee Seol mencoba meyakinkan Park Hae Young.
"Abadi?" Park Hae Young tersenyum. Ish.. Senyumnya maniis..
"Kalau begitu kau akan bisa mengalahkan cucu dari Dae Han group. Kau tau, wanita paling tidak tertarik pada seseorang yang jatuh cinta padanya. Tapi, kenapa kau membeli cincin itu? Ulang tahun? Perayaan?"
"Lamaran.." ucap Park Hae Young.



Mendengar jawaban Park Hae Young, Lee Seol jadi histeris, ia menggebrak  meja.. "Apa?! Tidak."
Semua orang yang ada di kedai itu melihat aneh ke arahnya.
"Kenapa kau berkata tidak?"
"Kau seharusnya memberikan cincin itu saat seorang wanita sangat sangat sangat benar benar menginginkannya."
"Pelankan suaramu." pinta Park Hae Young.
"Baiklah mulai dari sekarang jangan membeli hadiah apapun untuknya. Dan saat ia berulang tahun, telepon dia saja dan ucapkan selamat. Setelah itu kau memberikan hadiahmu seminggu kemudian dan ia pasti akan mengatakan.." Lee Seol mengatakan dengan sungguh-sungguh. "Dia pasti akan mengatakan, =Aku tidak akan mencampur hadiah ini dengan hadiah dari orang lain.= Kau tau, kata-kata itu lebih efektif dari pada 10 cincin yang kau berikan."


Park Hae Young menatap percaya ke arah Lee Seol. Ish, tatapannya .. ahaha...
"Dan kalau sudah begitu, tidak ada artinya lagi cucuk dari Dae Han Group, kau bisa dengan mudah mengalahkanya." ucap Lee Seol.
"Aja! Aja! Fighting." ucap Lee Seol mengepalkan tangannya ke udara.
"Sudahlah, kalau kau sudah selesai, ayo kita pergi."





Sebelum pergi, Lee Seol mendapatkan telepon dari ibunya. -Ibunya Chae Gyong Princess Hours.. bener-.  Ibunya menyuruh Lee Seol untuk pulang, karena ia akan pergi ke tempat persembahyangan untuk mendoakan kakak Lee Seol agar lulus ujian. Ibu juga tidak lupa untuk menyuruh Lee Seol memberikan makan kedua anjingnya selama ia pergi. Lee Seol senang sekali, ibunya pergi minggu ini. Karena ia bisa menyewakan rumahnya pada para pengunjung yang berlibur. Lee Seol bahkan ia membayangkan kalau ia akan mendapatkan banyak sekali uang dari hasil penyewaan rumahnya. Dengan uang-uang itu akhirnya dia bisa pergi ke Mesir. Hahaaa..


Setelah selesai makan, Park Hae Young dan Lee Seol berjalan pulang bersama. Lee Seol sangat amat senang, "Ah, ibuku akan pergi keluar kota minggu ini, bukankah aku sangat beruntung?"
Park Hae Young heran, "Kenapa kau malah senang mengetahui ibumu akan pergi?"
"Karena rumah akan kosong dan aku bisa mendapatkan banyak uang. Dengan uang itu aku bisa naik pesawat.."
"Pesawat?"
"Aku akan keluar negeri."
"Apa kau kuliah di luar negeri."
"Ah, kau ini.. Dengan suku bunga seperti saat ini bagaimana bisa aku keluar negeri. Aku akan belajar di luar negeri nanti."
Lalu.. Lee Seol bernyanyi dan berjoged hahaa... Park Hae Young sedikit risih dan ketakutan melihatnya.



"Ahh.. Sudah.. sudah.. berikan saja nomor telepon ibumu." ucap Park Hae Young.
"Kenapa nomor telepon ibuku?" tanya Lee Seol.
"Aku akan menelpon ibumu dan memberitahukan kalau anaknya berpergian seperti ini."
"Ahh.."
"Kau ini, pengangguran sudah banyak, jadi lebih baik kau baca buku dan belajar bahasa yang lain." ucap Park Hae Young seraya berjalan ke arah mobilnya.



Lee Seol tetap mengikutinya, ia menatap polos ke arah Park Hae Young.
"Apa?" tanya Park Hae Young "Kau tidak memintaku untuk mengantarkanmu kan?"
"aH, kalau kita searah kenapa tidak?" jawab Lee Seol.
Kemudian, Park Hae Young mendapat telepon kalau kakeknya jatuh sakit. Park Hae Young langsung pergi dengan mobilnya, ia mengkhawatirkan kakeknya sehingga tidak mempedulikan Lee Seol yang merengek minta di antar.



Park Hae Young menemui kakeknya yang terbaring sakit. Beberapa dokter sudah memeriksanya. Ayah Yoon Joo mengatakan kalau kakeknya jadi seperti ini, karena kakek mendengar berita yang sangat menggembirakan. Park Hae Young penasaran, berita menggembirakan apa.



Lalu kakenya memanggil Park Hae Young, kakek berbisik pada Park Hae Young dengan suara yang tidak jelas.
Kakek mengucapkan sebuah nama, "Lee Seol.."
saya : Whatzzz... Lee Seol?!!
"Lee Seol?!" tanya Park Hae Young tidak mengerti. "Siapa dia kakek?"
Kakek tidak menjawab, ia malah kembali tertidur.



Park Hae Young tidak menyadari kalau gadis yang menenaminya seharian tadi adalah Lee Seol. Yang Park Hae Young tahu nama Lee Seol saat itu adalah Go Eun Byul. Hahaa..





Ayah Yoon Joo menyerahkan selembar kertas yang berisi alamat rumah Lee Seol pada Park Hae Young. Sebenarnya itu bukan alamat asli Lee Seol, tapi alamat rumah Dan, rumah yang beberapa hari ini di tempati oleh Lee Seol.
Park Hae Young kesal, "Siapa dia? Kenapa aku harus membawanya ke sini?"
"Kakekmu beranggapan kalau ia masih memiliki hutang yang harus dibayar." ucap Ayah Yoon Joo.
Park Hae Young tidak percaya, "Aku yakin, kakek tidak pernah memiliki hutang dengan siapapun. Kecuali ada satu hal. Makam itu. Makam yang selalu dikunjungi oleh kakek. Aku yakin, ini berkaitan dengan makam itu, benar?!" tanya Park Hae Young kesal.
"Benar.. Kau sudah besar, kau akan mengetahui segalanya bukan dari mulutku. Pergilah dan turuti perintah presiden."
"Baiklah.. Ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan. Apakah dia anak dari kakek atau cucu dari kakek?" tanya Park Hae Young.
Karena Yoon Joo segera datang, Ayah Yoon Joo tidak menjawab hal itu. Park Hae Young akhirnya pergi tanpa mendapatkan informasi apapun.



Yoon Joo sedikit mendengar pembicaraan Ayahnya dengan Park Hae Young, ia penasaran. Yoon Joo segera menanyakan tentang hal itu pada ayahnya. Tapi, ayahnya tidak menjawab pertanyaan Yoon Joo.


Mau tidak mau Park Hae Young harus menuruti perintah kakeknya, akhirnya ia pergi ke alamat Lee Seol. Ia bertemu dengan Dan-Kakak dari Lee Seol. Park Hae Young menanyakan tentang Lee Seol, awalnya Dan merasa acuh, tapi ketika Park Hae Young menyerahkan kartu namanya, Dan mengetahui kalau Park Hae Young berasal dari perusahaan Dae Han. Karena terpesona, akhirnya Dan memberikan alamat rumah asli dari Lee Seol.




Park Hae Young sampai di tempat Lee Seol. Park Hae Young melihat Lee Seol yang tengah memberi makan anjinya, Lee Seol membelakangi Park Hae Young, jadi mereka sama-sama tidak menyadari satu sama lain.



Park Hae Young memastikan kalau gadis yang tak jauh dari tempatnya berdiri itu adalah Lee Seol, Park Hae Young memastikan dengan menelponnya. Lee Seol segera mengangkat telepon itu.
"Ya, di sini romantis dan bisa melihat sushine." ucap Lee Seol.
Park Hae Young diam tidak menjawab. Ia kembali melihat ke arah Lee Seol, dan yap.. Park Hae Young baru menyadari kalau Lee Seol itu adalah gadis yang ia kenal.


Lee Seol penasaran, ia menelpon kembali orang yang baru saja menelponnya.
"Hallo.. Ini Lee Seol. Kau baru saja menelponku."
"Namamu Lee Seol?" tanya Park Hae Young.
Lee Seol menyadari kalau suara Park Hae Young sepertinya dekat, jadi ia berbalik dan mendapati Park Hae Young tak jauh dari tempatnya berdiri.






Park Hae Young terkejut tapi Lee Seol senang melihat Park Hae Young datang mengunjunginya.
"Ah, kau.. Bagus sekali.." ucap Lee Seol girang.
"Nama mu Lee Seol, bukankah saat itu kau mengatakan kalau namamu itu adalah Go Eun Byul?" tanya Park Hae Young dengan sedikit kesal karena sudah dibohongi.
"Kenapa? Apa namaku bagus.. Haha.. Mereka bilang memang seperti itu, nama dan wajahku sama-sama cantik."
"Kenapa kau membohongiku?"
"Oh, itu karena aku takut kita ketahuan. Ah, tipe seorang gadis memang seperti itu kalau ia sedang bertemu dengan rivalnya."
"Hey, bagaimana bisa kau sampai di sini?" tanya Lee Seol.
"Apa sulit menemukan tempat ini?"
"AH, apa kau memata-mataiku."
"Kenapa?"
"Aaaah.. Aku pikir kau seorang diplomat. apa kau menggunakan uangmu untuk melakukan hal ini?"
"Apa kau sudah mengenalku sebelumnya?" tanya Park Hae Young, ia menatap tajam ke arah Lee Seol.







Sikap Park Hae Young jadi tidak ramah seperti dulu.

Lee Seol tertawa. "Kau terlalu narsis tau.."
"Apa ada kamar kosong.. " tanya Park Hae Young dengan tidak ramah. "Aku akan tinggal sampai besok."
"Apa?" tanya Lee Seol kaget.
"Bukankah kau akan mendapatkan uang kalau kau menyewakan tempat ini?"

Mendengar hal itu Lee Seol senang bukan kepalang, ia berteriak kegirangan.. "Selamat datang pelanggan.."

No comments:

Post a Comment