Thursday, September 8, 2011

Sinopsis My Princess episode 4 part 1



Petugas bandara mengecek tiket milik Lee Seol, beberapa kali ia menyamakan antara foto dengan wajah Lee Seol. Lalu petugas bandara itu berkata, "Silakan keluar dari garis ini." Petugas bandara membuka garis pembatas, dan menyuruh Lee Seol dan Park Hae Young untuk keluar dari antrian.
"Ada apa ini?" tanya Park Hae Young.
"Anda dilarang untuk melakukan perjalanan jauh." jawab petugas.
"Kenapa? Kenapa bisa begini?" tanya Lee Seol.
"Begini, aku seorang diplomat, Park Hae Young. Dan ini sangat tidak mungkin kalau kami mendapatkan masalah seperti ini."
"Anda harus mencari tahu hal itu sendiri kenapa anda tidak diperbolehkan untuk melakukan perjalanan jauh." jawab petugas. "Selanjutnya.." ucap petugas memanggil antrian berikutnya.



 Mau tidak mau, Lee Seol dan Park Hae Young harus keluar dari antrian. Park Hae Young bertanya, "Hey, kau tidak memiliki masalah hukum yang belum terselesaikan kan? Seperti tunggakan pajak atau yang lainnya?"
Lee Seol berpikir sejenak, "Ah, apa tagihan gas kota yang belum dibayar itu juga termasuk?"
"Aish, apa-apaan ini.." ucap Park Hae Young kesal. Ia lalu menarik tangan Lee Seol, "Ayo, ikut aku.."




 Park Hae Young dan Lee Seol menelpon seseorang untuk mengetahui kenapa Lee Seol tidak diperbolehkan pergi. "Jadi, maksudmu Lee Seol ada di dalam daftar nama yang tidak diperbolehkan untuk melakukan perjalanan keluar negeri? Kenapa? Ah, baiklah.. Aku mengerti.." Dengan kesal, Park Hae Young mematikan handphonenya. Lee Seol juga ikut bingung, ia mengikuti gerakan Park Hae Young yang terus saja mondar mandir.
"Hey, aku jadi merasa takut. Ada apa? Katakan padaku." pinta Lee Seol.
"Ada seseorang dibalik semua ini. Seseorang yang bekerja sama dengan pihak pemerintahan untuk tidak membiarkanmu pergi." jawab Park Hae Young.
"Tapi siapa?" tanya Lee Seol.
"Kau pasti menyadari siapa yang melakukannya."


"Apa mungkin Ayah Yoon Joo." terka Lee Seol.
"Kakek sudah membiayai kuliah Ayah Yoon Joo dan juga menjadi saksi dalam pernikahannya. Aish.." jawab Park Hae Young.
"Owh.. Ternyata orang-orang konglongmerat memiliki hubungan yang sangat dekat satu sama lain. Jadi, kau pikir, Kakek dan Ayah Yoon Joo yang ada dibalik semua ini? Mereka berkomplot dan menjadikanku seperti seorang penjahat begitu." Lee Seol menerka lagi. Ia berpikir kalau kakek dan Ayah Yoon Joo menjadikannya seolah-olah seperti criminal, agar ia tidak bisa meninggalkan korea.
"Aaah, tapi bagaimana mungkin orang yang memberikan seluruh hartanya untuk menjadikanmu seorang Princess, dapat melakukan hal semacam itu." ucap Park Hae Young.
"Mungkin saja." jawab Lee Seol. "Apapun bisa dilakukan saat dalam keadaan marah. "




"Kau lihat kemarin? Bagaimana caraku mentapnya? Aku menatap ke arah Kakek dan Ayah Yoon Joo seperti ini.. ni.." Lee Seol menyipitkan matanya lalu menarik kedua ujung matanya Hahaa... "Dan aku berkata, aku tidak akan memaafkanmu.."
Park Hae Young hanya menatapnya aneh..



  "Targetnya sekarang bukan kau tapi aku." jawab Park Hae Young. "Kalau mereka sudah bermain ekstrim, maka mulai sekarang aku harus bisa mengeluarkan semua kemampuanku."
Lee Seol meledek, "Bagaimana bisa kau melakukan itu. Kau saja tidak bisa mengatasi masalah video di internet waktu lalu. Kemampuan apa itu?"
"Hey, kau pikir aku tidak mengatasi hal itu, karena aku tidak bisa? Huh? Aku hanya tidak ingin menyelewengkan wewenang pemerintahan saja." jawab Park Hae Young.
"Aaah.. Aku mengerti, aku mengerti.. Lebih baik aku pulang.." jawab Lee Seol.


"Kau mau kemana?" tanya Park Hae Young seraya menahan tangan Lee Seol.
"Aku mau ke rumah ibuku." jawab Lee Seol. "Lebih baik aku pulang untuk mempertanggung jawabkan surat yang aku tulis." Lee Seol pergi dari rumah dengan tidak pamit ibunya terlebih dulu, ia malah hanya membuatkan surat untuk ibunya.
"Kau akan pergi ke Egypt dan kau menulis surat?" tanya Park Hae Young heran.
"Ya. Maka dari itu, sebelum itu membunuhku, aku harus pulang." jawab Lee Seol.
"Ibumu tidak akan membunuhmu, karena kau akan segera berangkat ke Egypt." jawab Park Hae Young.
"Memangnya kau tau, kapan pencabutang pelarangan keluar negeri untuk diriku akan dilakukan? Kita kan tidak tau kapan hal itu akan terjadi. Saat membaca surat yang aku tulis, mungkin ibu akan segera mencari pacarku." jawab Lee Seol. Yah, saat ibunya membaca surat dari Lee Seol, mungkin Ibu Lee Seol kira, Lee Seol dibawa pergi oleh pacarnya.
"Nah, kalau kau tidak ingin dibunuh oleh ibuku, lebih baik cepat, kita kembali ke rumah." jawab Lee Seol.




Dengan mengendap-endap Lee Seol dan Park Hae Young masuk ke dalam rumah. Lee Seol memanggil ibunya dengan pelan, "Ibu.. Buu.. Ibu.." Karena dirasa rumah sangat sepi dan tidak ada panggilan dari ibunya, Lee Seol mengencangkan suaranya, "Ibu.. Ibuu.. Bu.."
"Ah, sepertinya ia tidak ada dirumah." kata Lee Seol.
"Bagus. Sekarang kau cepat ambil surat itu. Kau letakkan dimana?" tanya Park Hae Young.
"Di laci kamar ibuku." jawab Lee Seol seraya bergegas menuju kamar ibunya dan membuka laci. Tapi, setelah dicari, ia tidak menemukan surat itu..
"Tidak ada.. Bagaimana ini??" Lee Seol panik.
"Cari yang teliti. Kau simpan di mana?" tanya Park Hae Young yang menjaga pintu.
"Aku menaruhnya di buku besar, agar ibu dapat membacanya saat hari minggu. Tapi, buku itu tidak ada.." jawab Lee Seol.
"Mungkin dia pergi beribadah?" terka Park Hae Young.
"Ah, cepat-cepat nyalakan mobil" seru Lee Seol.


Park Hae Young dan Lee Seol sampai di tempat peribadatan. Lee Seol dan Park Hae Young masuk lalu duduk di bangku paling belakang. Mereka duduk tepat dibelakang ibu Lee Seol, mereka juga melihat surat Lee Seol terselip diantara lembar-lembaran buku.
"Itu, surat itu." tunjuk Lee Seol.
"Sepertinya, ibumu belum membacanya." jawab Park Hae Young.
"Cepat, kau ambil surat itu.." suruh Lee Seol.
"Kenapa harus aku?"
"Kau kan memiliki lengan yang panjang. Tidak mungkin aku yang harus mengambilnya. Cepat.." ujar Lee Seol.



Park Hae Young melakukan yang disuruhkan oleh Lee Seol. Ia pikir, ibu Lee Seol sedang konsentrasi beribadah, jadi mungkin ia tidak akan menyadarinya, kalau buku yang ada dihadapannya diambil. Park Hae Young dengan perlahan mengulurkan lengannya untuk mengambil surat yang terselip di buku, buku itu ada di depan Ibu Lee Seol. Ibu Lee Seol menyadari kalau bukunya akan diambil, maka Ibu Lee Seol menengok.
Park Hae Young salah tingkah, ia berpura-pura sedang berdoa.
Lee Seol hanya meringis.
"Kalian, kapan kalian datang?" tanya Ibu Lee Seol heran.
"Ah, baru saja.. Dia, dia sedang libur dan memutuskan untuk membersihkan penginapan, jadi setelah itu aku ajak saja ia ke sini." jawab Lee Seol.
Park Hae Young mengangguk-angguk. "Aku datang untuk menjemputmu agar kau merasa nyaman."
"Aigoo.. Kau ini." jawab Ibu Lee Seol.






 "Ibu, karena kita sudah sampai sini, jadi kami akan benar-benar berdoa. Pinjamkan buku itu." pinta Lee Seol.
"Ah, ini sudah selesai." jawab Ibu Lee Seol, seraya memasukkan buku dan surat yang terselip di buku ke dalam tas. "Ya, sudah cepatlah nyalakan mobil."
"Ah, baik. Bagaimana kalau aku yang membawakan tasmu ke mobil." pinta Park Hae Young.
"Ah, benarkah.. Baiklah.." jawab Ibu Lee Seol seraya menyerahkan tasnya pada Park Hae Young. Park Hae Young tersenyum, ia mendapatkan tas Ibu Lee Seol, kesempatan baginya untuk mengambil surat milik Lee Seol. Kemudian Park Hae Young segera membawa tas itu keluar ruangan. Sesampainya diluar ia menggeledah tas untuk mencari buku dan ia membuka amplop yang terselip dibuku. Park Hae Young tidak berhasil mendapatkan surat itu, yang ia dapatkan hanya beberapa amplop berisi uang.



 Ternyata surat milik Lee Seol tertukar dengan surat yang berisi uang untuk amal. Yang diserahkan oleh ibu Lee Seol untuk amal, ternyata bukan amplop berisi uang, tapi malah amplop yang berisi surat Lee Seol. Tamatlah riwayat Lee Seol, karena saatnya dibacakan satu-persatu amplop itu.


Satu persatu amplop berisi uang dan permintaan mulai dibacakan. Dan giliran surat dari Lee Seol yang dibacakan.
"Ah, sepertinya ini sebuah surat.. Baiklah, uang memang tidak penting, yang penting adalah ketulusan hati." ucap seseorang yang memimpin doa. "Baiklah.. Aku akan membacakannya.. Ibu, ini aku Lee Seol.." semua kaget.. Terlebih Lee Seol, ia benar-benar panik. Surat untuk ibunya malah dibacakan ditempat umum dan di tempat yang tidak seharusnya.
Surat itu terus dibacakan. "Ibu, pergilah ke dapur, kemudian ambilah obat herbal di lemari. Mungkin saat kau membacakan surat ini, aku sedang berada di pesawat menuju Egypt. Uah, sepertinya anak ini kabur dari rumah."



 Ibu Lee Seol menahan malu dan kesal, ia tidak mengerti apa yang dilakukan anaknya. Lee Seol panik, ia benar-benar panik. Park Hae Young datang dan ia kembali duduk di samping Lee Seol.
Surat kembali dibacakan, "Ibu, aku tidak menceritakan hal ini sebelumnya, karena aku takut kau akan merasa sedih. Aku sudah sangat ingin pergi ke Egypt dari dulu dan mungkin aku akan menetap di negara itu dalam jangka waktu yang lama."

Park Hae Young yang baru saja datang dan langsung mendengar hal itu, langsung termangu. Keduanya mulai panik..
Surat itu kembali dibacakan,  "Ibu jaga dirimu dan jaga kesehatanmu. Lee Seol. Ibu Lee Seol, apakah kau hadir hari ini? Apa ada Ibu Lee Seol di ruangan ini?"
Ibu Lee Seol merapikan rambutnya, "Ah, iyah, aku disini."
"Ibu, sepertinya anakmu kabur dari rumah.."
"Ah, ituu.. itu.." Ibu Lee Seol terbata, ia langsung melihat ke arah anaknya.


 Dalam hitungan ketiga, Park Hae Young dan Lee Seol langsung kabur dari ruangan. Mereka berlari ke luar ruangan. Ibu Lee Seol yang melihat hal itu segera mengejar mereka, dan ruangan menjadi ricuh. Ibu Lee Seol berhasil mengejar Lee Seol, ia memukul Lee Seol. Semua orang memperhatikan mereka. Ibu-ibu yang lain merasa kasian melihat Lee Seol dipukuli, mereka mencoba menghentikan pukulan Ibu Lee Seol.


 Park Hae Young berusaha melindungi Lee Seol, ia berkata, "Ibu,, tolong hentikan.."
"Aaah, semua ini karena kau.. Kau yang menyebabkan semua ini.. bukan.. huh?" ungkap Ibu Lee Seol kesal, ia kembali memukuli Lee Seol.
"Ibu, ini semua salahku." ucap Park Hae Young.
"Apa? Apa maksudmu.. Jadi, kalian merencanakan semua hal ini? Begitu.. Apa kau.. Apa dia hamil?" tanya Ibu Lee Seol pada Park Hae Young.
Tanpa disangka, semua orang bersorak mendengar ucapan Ibu Lee Seol. Mereka berkata, "Ah, selamat-selamat.. Hari ini memang hari yang sangat indah.. Ah, selamat.."


Park Hae Young dan Lee Seol segera menolak pernyataan itu, Hahahaa.. Mereka bingung sendiri bagaimana menghadapi orang-orang yang saling bersorak. 
"Bukan, bukan seperti itu." ucap Park Hae Young.
"Tentu bukan." ucap Lee Seol.
Kenapa masalah mereka jadi serumit ini.. Hahaa.. xp



Kemudian, salah seorang mengatakan ."Aku sepertinya mengenal kau." ucap orang itu pada Park Hae Young.
Park Hae Young langsung menutup wajahnya, ia menggeleng-geleng.
"Aaah, bukankah, kau cucu dari pemilik Dae Han Group kan??" tanya orang itu.
Whoaa.. Mendengar hal itu semua orang bertambah heboh. Begitu juga ibu Lee Seol, ibu Lee Seol yang tadi marah, sekarang ia membelalakkan matanya senang. Senang karena anaknya dihamili oleh cucu dari Dae Han Group.. 

Kepanikan bertambah, Lee Seol sudah tidak bisa lagi mengatasi kesalahpahaman ini. Lalu Park Hae Young memohon, "Aku mohon, demi perusahaan dan demi keluargaku.. Jangan sampai publik tau mengenai hal ini.." pinta Park Hae Young dengan polos.
"Ah, tentu saja.. Tentu saja.." jawab mereka. "Kami mengerti keadaanmu, kami mengerti. Demi Tuhan kami akan - SSssshhh.. Shsshss.."
Yang lain mengikuti "Ssssshhssh." Para warga kompak menaruh jari telunjuk mereka dibibir dan "Sssshhhssh...!!" 
Hahaa.. Mereka berjanji untuk tidak mengatakannya pada siapapun, lah kan udah jadi rahasia umum sekarang..




 Di rumah Lee Seol, Park Hae Young dan Lee Seol mencoba menjelaskan mengenai hal sebenarnya yang sudah terjadi. Mereka memperlihatkan video tentang wartawan yang mengejar mereka berdua tempo hari.
"Sepertinya, ibumu mulai tersentuh dengan video itu, lihat, dia terus menonton video itu." bisik Park Hae Young pada Lee Seol.
Ibu Lee Seol masih fokus melihat video.


 "Itulah kenapa kau mengambil video itu dari internet??" Lee Seol memukul Park Hae Young.
"Tenanglah.." suruh Ibu Lee Seol. Ia meletakkan laptopnya di atas meja. "OMO, kau membuat kekacauan seperti ini?! Kau juga bahkan masuk berita? Huh?!"
Lee Seol dan Park Hae Young hanya bisa menunduk, mereka yakin kalau mereka akan dimarahi.
"Kalian?! Romantis sekali.." ucap Ibu Lee Seol.. HAHAA.. Kacauu..
"Aku bahkan dari dulu sangat ingin melakukan hal seperti ini. Aigoo, kau pasti sangat menyukai hal ini." kata Ibu Lee Seol.


 Lee Seol dan Park Hae Young saling menatap, mereka tidak mengira ibunya akan berkata seperti itu.
"Ibu, apa kau tidak marah?" tanya Lee Seol.
"Bagaimana bisa aku marah kalau aku tau hal yang sebenarnya." jawab Ibu Lee Seol. "Aigoo, bahkan aku tidak tau sama sekali kalau kalian akan pergi bulan madu."
Lee Seol protes, "Ibu, kami tidak pergi bulan madu, kami saja belum menikah."
"Bagaimana bisa kalian pergi berdua keluar negeri kalau hal itu bukan disebut dengan bulan madu." jawab Ibu Lee Seol. "Aku tau sedikit tentang cinta. Aigoo.. Benar kata orang, kalau anak itu akan mengikuti orang tuanya.."
"Ibu, apa kau dan ayah juga kabur?" tanya Lee Seol penasaran.
"Yah, bagaimanapun cinta lebih kuat dari apapun." jawab Ibu Lee Seol.


 Lee Seol masih bersikukuh untuk menjelaskan hal yang sebenarnya, tidak boleh ada kesalahpahaman, karena yang ia sukai bukan Park Hae Young tapi profesor Nam Jung Woo. "Ibu, begini, sebenarnya kami tidak.."
Ucapan Lee Seol terputus oleh kata-kata Park Hae Young, "Ibu, Kami saling mencintai."
Lee Seol menatap kesal ke arah Park Hae Young, kenapa ia mengatakan hal itu..
"Kau sangat beruntung memiliki pria seperti Park hae Young, itu sama saja dengan kau memenangkan sebuah lottre." jawab Ibu Lee Seol, pada Lee Seol.


Park Hae Young tersenyum. "Ibu maafkan kami, karena baru memberitahumu tentang status hubungan kami."
"Hei, hei, kau.. Apa kau gila?!" Lee Seol kesal.
"Tenanglah, lambat laun kita juga harus memberitahukan tentang hubungan kita pada ibumu.." jawab Park Hae Young seraya tersenyum. "Tenanglah, Oppa yang akan membereskan semua ini."
"Oppa?!!" Lee Seol bertambah kesal.. Haha..

"Ibu, maafkan aku harus mengatakan hal ini. Sebenarnya hubungan kami ini tidak direstui oleh orang tuaku. Saat Lee Seol bertemu dengan kakek, kakek bahkan menangis dan berlutut padanya." ucap Park Hae Young, ia mulai mengarang-ngarang cerita yang masih disangkutpautkan dengan kejadian yang sebenarnya.
"Benarkah sampai seburuk itu?" tanya Ibu Lee Seol.
"Untuk itulah, Aku dan Lee Seol harus pergi keluar negeri untuk menjaga hubungan ini." ucap Park Hae Young dengan sungguh-sungguh. "Untuk itu.." Park Hae Young berlutut di depan Ibu Lee Seol. Ibu dan anak itu terkejut melihat Park Hae Young yang berlutut. Ibu Lee Seol terkejut karena terpukau sedangkan Lee Seol terkejut karena cemas, bingung dan kesal.
"Kami mohon, kau bisa merestui kami sehingga kami bisa pergi ke Egypt dengan restumu." ucap Park Hae Young seraya menunduk.
"OMo.. Apa kalian benar-benar saling mencintai?" tanya Ibu Lee Seol.
"Ya." jawab Park Hae Young.
"Kalau seperti itu, tidak penting restu dariku." jawab Ibu Lee Seol seraya tersenyum senang.




 "Terimakasih Ibu. Terimakasih." Park Hae Young mengangguk-angguk dengan sungguh-sungguh. "Terimakasih.."
Lee Seol hendak berbicara, tapi Park Hae Young segera memotongnya, "Aigoo, kenapa kau tidak bilang kalau kau punya ibu yang cool dan baik seperti itu."
"Sifatku memang seperti ini." jawab Ibu Lee Seol seraya tersenyum senang karena mendapat pujian.
"Tapi, bu.." lagi-lagi kata-kata Lee Seol terputus, karena langsung disambar oleh Park Hae Young.
"Kalau tau seperti ini, pasti kita tidak perlu cemas untuk meminta restu dari nya." ucap Park Hae Young.

"Tapi, sebelum pergi. Maukah kalian untuk meregistrasikan pernikahan kalian?" tanya Ibu Lee Seol.
Pertanyaan itu membuat Park Hae Young dan Lee Seol diam tidak berkutik.
"Apa?" Park Hae Young menatap Ibu Lee Seol dengan polos.
Park Hae Young dan Lee Seol saling menatap.
"Meregistrasikan pernikahan kalian." kata Ibu Lee Seol.
"Tapi, kami tidak memiliki rencana seperti itu." jawab Park Hae Young.

Kemudian terdengar suara ketukan dari pintu rumah, beberapa pengawal suruhan kakek datang dan segera masuk ke dalam rumah. Salah satu pemimpin pengawal itu berkata, "Tuan, kami datang untuk menjemputmu."
"Ada apa?" tanya Park hae Young.
Pengawal itu tidak menjawab, ia malah melihat keheranan karena Park Hae Young yang berlutut. Menyadari kalau dirinya sedang berlutut, Park Hae Young segera membenarkan dirinya, ia kembali duduk di sofa.


 Lee Seol dan ibunya mengantarkan Park Hae Young sampai depan rumah. Di depan rumah terparkir beberapa mobil mewah yang sudah menunggu.
Lee Seol kesal "Jadi, kau ingin menyelamatkan dirimu sendiri begitu?"
"Hei, kalau kau ingin ikut, tidak apa-apa.." jawab Park Hae Young. "Kakek malah akan menyukainya.."


 Park Hae Young berkata pada Ibu Lee Seol, "Perjalananku ke Seol akan sangat cepat, jadi jangan khawatir. Dan selama itu aku ingin kau menjaga Lee Seol."
Ibu Lee Seol tertawa, ia membenarkan jas Lee Seol. "Aigoo, tenang saja menantuku Park Hae Young.. Kau pikir aku tidak bisa menjaga putriku sendiri. Begitu?"
"Kapan kau akan kembali?" tanya Lee Seol kesal.
"Aku akan kembali secepatnya." jawab Park hae Young dengan masih menyunggingkan senyumnya.
"Ia, seberapa lama?" tanya Lee Seol lagi.
"Aigoo.." Park Hae Young mencubit gemas kedua pipi Lee Seol. "Kau ini sangat pemarah. Tenang saja."


 Ibu Lee Seol yang melihat hal itu segera mengerutkan keningnya kemudian tertawa. Bukan hanya Ibu Lee Seol yang mengerutkan kening, tapi pemimpin pengawal itu juga menatap aneh dengan tingkah Park Hae Young.
"Aigoo... Aigoo.. Kau ini.. Kenapa-kenapa.. Kau baru saja bertemu denganku dan kau masih saja merasa rindu. Aigoo.." Park Hae Young tertawa dan ia memperhatikan ekspresi Ibu Lee Seol, tertawanya semakin keras saat tau kalau Ibu Lee Seol ternyata mulai percaya tentang hubungan dirinya dengan Lee Seol.
"Baiklah, ibu.. Aku harus pergi." pamit Park Hae Young.
"Baiklah, hati-hati di jalan.." jawab Ibu Lee Seol seraya tersenyum senang.


 Di sebuah gedung megah, Kakek Park Hae Young dan Ayah Yoon Joo tengah melihat konstruksi bangunan mewah. Karikatur mini dari konstruksi bangunan Istana yang akan ditempati oleh Princess, siapa lagi kalau bukan Princess Lee Seol. Kakek Park Hae Young secara khusus mendesign mewah bangunan Istana. Bangunan Istana mewah bergaya Kerajaan Inggris di Regent's Park-London itu kelak akan menjadi tempat tinggal Princess. (Untuk Episode 5 dan 6, Lee Seol akan menghadapi kehidupan Istana)


Presiden datang untuk menemui Kakek Park Hae Young. Presiden sangat terkesima dengan bangunan mewah itu. Kakek juga tidak lupa untuk membuatkan sebuah bangunan monumen bersejarah untuk Presiden. Kelak saat presiden turun dari jabatannya, monumen itulah yang akan dijadikan sebagai sebuah pengingat jasa-jasa Presiden dalam membantu terbentuknya Keluarga Kerajaan.


 Kubu yang kontra (The Gum Ja Party) dengan keputusan Kakek Park Hae Young dan Presiden tengah sibuk berdemo. Ia berdemo di tengah terik matahari sendirian (demo yang aneh..). Banyak wartawan yang mengelilinginya untuk mendapatkan berita. Dan karena kelelahan saat berdemo, presiden pihak Kubu Kontra (The Gum Ja Party) yang sedang berdemo pura-pura pingsan dan akhirnya ia harus di bawa ke rumah sakit.


 Untuk menguatkan posisinya dalam mempertahankan harta warisan Kakek Park Hae Young, Yoon Joo datang untuk menemui Kubu kontra (The Gum Ja Party) itu. Ia harus menjalin koneksi dengan banyak pihak pemerintahan yang kontra terhadap pembentukan kembali keluarga kerajaan. Tentu saja niatnya itu tidak ada yang mengetahui.

Yoon Joo menemui pihak Kubu Kontra (The Gum Ja Party), presiden pihak Kubu Kontra (The Gum Ja Party) berkata pada Yoon Joo, "Kita harus mengikuti arus dan tentu saja harus mengambil perhatian dari masyarakat. Kita tidak boleh bertentangan dengan opini masyarakat, kita yang harus mengarahkan opini masyarakat tersebut. Kau tau, masyarakat sekarang sudah amat pintar dan mereka bahkan tidak mudah dibohongi. Kau hanya perlu mengekspos hal yang sebenarnya. Tentang keluarga, pendidikan. Apa kau pikir masyarakat tersebut tidak bisa menilai terhadap gadis bodoh itu? Dan masyarakat yang akan membereskan semuanya."

Nah, perkataan dari presiden pihak Kubu Kontra (The Gum Ja Party) itu menginspirasi Yoon Joo untuk melakukan siasat licik lain. Ia akan mengekspos pada masyarakat umum tentang latar belakang Lee Seol, tentang ayah Lee Seol yang terlibat banyak masalah. Cukup gampang bagi Yoon Joo untuk melakukan hal itu, karena ia juga kan punya koneksi dengan Reporter Yoo Gi Gwang. Jadi, semua berita buruk yang diberitakan oleh Reporter Yoo Gi Gwang, sumbernya berasal dari Yoon Joo.


 Yoon Joo menghadap Kakek Park Hae Young, ia bersikap seolah ia berada di pihak kakek Park Hae Young. "Aku baru saja menemui Presiden pihak Kubu Kontra (The Gum Ja Party). Dan sepertinya masyarakat masih tidak menyukai tentang keputusan yang telah dibuat."
Ayah Yoon Joo berkata, "Bagaimanapun juga kita harus memperbaiki jalinan hubungan kita dengan pihak Kubu Kontra (The Gum Ja Party). Agar semuanya berjalan lancar."


 Park Hae Young datang untuk menemui kakeknya. Ayah Yoon Joo memberi isyarat pada Yoon Joo untuk keluar ruangan.
"Kau anak yang tidak tau diuntung. Kau sudah menyembunyikan Princess begitu saja." Kakek marah pada Park Hae Young.
"Kakek, apa ini masuk akal? Kau memberikan seluruh hartamu untuk seseorang yang tidak memiliki hubungan sama sekali dengan kita." jawab Park Hae Young. Ia masih berusaha untuk menyadarkan Kakeknya, kalau tidak ada gunanya memberikan semua harta kekayaan pada orang lain.
"Dae Han Group dibangun dan didirikan pertama kali juga karena bantuan dari keluarga kerajaan." jawab Kakek dengan emosi. Saya suka takut kalau liat kakek-kakek marah sambil teriak-teriak, takut tiba-tiba jantungnya berhenti berdetak (??)
"Kalau begitu, kau tidak seharusnya memberikan semua hartamu. Kau hanya cukup untuk melunasi semua dana yang diberikan oleh keluarga kerajaan dan membayar bunganya." jawab Park Hae Young.
"Kenapa?!! Apa itu uangmu! Apa kau yang mencarinya?! Kenapa kau sangat khawatir dengan harta itu." Kakek marah besar.


 "Baiklah, kalau seperti itu, aku akan bertindak sesuai dengan caraku." ungkap Park Hae Young.
"Apa maksudmu?" tanya Kakek.
"Sangat mudah untuk menculik gadis itu. Aku tidak peduli, bagaimana caraku menculiknya. Mungkin aku akan mengikat kaki dan tangannya." ancam Park Hae Young.
"Kau!! Lihat, sekarang dia sudah berbicara mirip seperti ayahnya." ucap kakek.

Mendengar hal itu Park Hae Young terkejut. Ayahnya? Ayah Park Hae Young yang pergi, tanpa memberikan kabar sejak 20 tahun yang lalu juga menghadapi situasi seperti yang ia hadapi saat ini.
"Apa situasi yang aku hadapi saat ini juga sama dengan yang dihadapi oleh ayahku?" tanya Park Hae Young. Suasana menjadi semakin tegang. "Sudah lama aku merasa sangat penasaran. Kenapa ayahku tidak diperbolehkan lagi untuk menginjakkan kakinya di negara ini? Apa dosa yang ia perbuat sehingga kau mengusirnya.  Apa karena pembentukan kembali keluarga kerajaan? Agar keluarga kerajaan dapat terbentuk kembali, kau mengusirnya dan membiarkanku hidup sebagai yatim piatu. Apa ayahku juga mencoba untuk menyingkirkanmu dan cemburu terhadap perusahaan ini? Begitu?" tanya Park Hae Young.
"Tutup mulutmu!" bentak Kakek.
"Kau sebaiknya keluar, mari kita bicarakan diluar." ucap Ayah Yoon Joo.
"Keluar! Suruh ia keluarr!!" bentak Kakek.
"Baiklah. Aku akan keluarga. Dan jangan harap kau bisa melihat Princess lagi." jawab Park Hae Young seraya keluar dari ruangan kakeknya.
Karena marah, kesehatan kakek menjadi tidak membaik.


 Yoon Joo yang sedari tadi mencuri dengan pembicaraan antara Park Hae Young dan kakeknya, ia berkata pada Park Hae Young. "Oppa, kau tidak boleh berkendara dalam keadaan seperti ini. Hal ini akan membuatmu celaka." ucap Yoon Joo cemas. "Oppa, tenangkan hatimu dan tinggalah sebentar."
"Saat keluarga kerajaan sudah terbentuk dan saat aku jatuh bangkrut, aku tidak akan bisa lagi untuk menikahimu. Masuklah." jawab Park Hae Young seraya pergi meninggalkan Yoon Joo.
Yoon Joo menatap Park Hae Young yang semakin menjauh, ia menahan air matanya.


 Pagi harinya Park Hae Young mengerahkan semua pemikirannya, ia harus menyelamatkan harta warisannya. Sama seperti Yoon Joo, Park Hae Young menemui Presiden pihak Kubu Kontra (The Gum Ja Party).
Park Hae Young mengatakan "Aku ingin meminta bantuanmu. Bisakah kau mencabut ketentuan untuk -tidak boleh melakukan perjalanan jauh?-"
"Kenapa? Apa ada ingin mengirim seseorang pergi?" tanya Presiden pihak Kubu Kontra (The Gum Ja Party). "Apa itu Princess?"
Park Hae Young tersenyum, "ternyata kau sangat cepat menanggapinya."
"Ah, aku juga seperti itu. Tapi, kenapa kita tidak menggunakan cara yang lebih mudah saja? Kau tau, masa kecil anak itu tidaklah baik. Kalau kita mempublikasikan hal itu kepada publik. Maka tentu saja, kita tidak perlu melakukan hal apapun." Ini juga saran yang ia berikan pada Yoon Joo.



 Di rumah Lee Seol, ibunya tengah menyiapkan banyak masakan agar Lee Seol bisa membawanya saat ia akan pergi ke Egypt.
"Ibu, bagaimana bisa aku membawa makanan sebanyak ini ke dalam pesawat?" tanya Lee Seol.
"Aigoo, kau ini bodoh. Aku menyiapkan ini semua karena aku khawatir, saat kau di Egypt, kau tidak bisa menemukan makanan yang biasa kau makan." jawab Ibu. "Oh, ya.. Sebelumkau pergi, sebaiknya kau berpamitan terlebih dulu pada Proffesor. Jangan pergi begitu saja."
"Iya, ibu. Aku sudah melakukannya. Aku sudah berpamitan dengannya lewat surat." Lee Seol terkejut dengan ucapannya sendiri. "Ah, surat! Surat!!"



 Lagi-lagi tragedi surat. Sebelum Lee Seol pergi ke Egypt selain membuat surat untuk ibunya, ia juga membuatkan surat untuk Profesor Nam Jung Woo. Surat special buatan Lee Seol, ia menuliskan perasaannya pada Profesor Nam Jung Woo dalam surat itu. Lee Seol bahkan menyemprotkan parfum pada amplop surat itu. Hahaa..

Lee Seol panik, ia segera menelpon profesor Nam Jung Woo.
"Halo." sapa Lee Seol.
"Ah, Lee Seol. Baru saja, aku akan menelponmu karena khawatir dengan keadaanmu. Bagaimana? Apa kau kembali ke rumah dengan selamat?" tanya Profesor.
"Ah, iah." jawab Lee Seol. "Profesor.. Hmmm.. Apa kau menemukan surat aneh?"
Profesor mengambil surat Lee Seol, "Ah, maksudmu surat ini : dear professor.. Ada tanda love di antasnya." Profesor menahan gelaknya.
"Ah, benar.. Profesor, apa mungkin kau sudah membacanya?" tanya Lee Seol penasaran.
"Aku baru saja menerimanya. Sudah lama sekali, aku tidak menerima surat dengan tulisan tangan." jawab Profesor seraya tersenyum.
Lee Seol berlonjak, "Professor, aku akan menemuimu untuk mengambil surat itu kembali. Aku mohon, kau jangan membacanya, aku mohon..."
"Kenapa? Kau mengirimkan surat ini tapi aku tidak boleh membacanya?"
"Ah, saat itu aku memang mengirimkannya untukmu, tapi sekarang keadaannya sudah berubah.. Aku mohon profesor, aku mohon kau tidak membaca surat itu. Aku akan segera ke sana. Tunggu aku.." Lee Seol segera mengambil sweater dan tasnya lalu berlari keluar rumah. Ibu Lee Seol yang melihat hal itu berkata, "Hei, menantu Park tidak membolehkanmu keluar rumah."
"Ah, hanya sebentar ibu." jawab Lee Seol, ia segera pergi dan mengejar bus.


 Lee Seol berlari menuju kampus, saat ia berlari beberapa wartawan mencegatnya.
"Permisi, bisakah kita mengadakan interview sebentar?"
"Apa?" tanya Lee Seol tidak mengerti.
"Kau adalah -gadis yang dipeluk- itukan?" tanya sang wartawan.
Lee Seol langsung menutupi wajahnya dengan tudung kepala. Beruntungnya Lee Seol karena Profesor datang menghampirinya.


 Profesoar Nam  Jung Woo berkata, "Kau lebih memilih untuk berada di sini lalu mengadakan wawancara dari pada menghadiri kelasku?" ucap Profesor, ia berpura-pura marah, agar bisa mengelabui wartawan. "Kau akan mendapat masalah besar." ucap Professor seraya pergi.
Lee Seol tersenyum, "Professor.." panggilnya, Lee Seol lalu mengejar Profesor dan membiarkan begitu saja para wartawan itu.



 Di kafe kampus, Lee Seol berkata, "Profesor, ternyata kau sangat mahir berakting."
Professor Nam Jung Woo tersenyum, "Benarkah? Orang-orang mengira kalau aku tidak memiliki sisi laki-laki yang baik. Tapi, mereka tidak tau, kalau aku punya sisi liar yang lain." ucap Profesor seraya mengambil surat Lee Seol dari balik jasnya.
"Ah, itu. Profesor, tolong kembalikan padaku." pinta Lee Seol saat melihat surat pink miliknya. Lee Seol berusaha merebut surat itu, tapi tidak bisa.
"Kenapa kau ingin mengambil kembali apa yang sudah kau berikan?" tanya Profesor, ia menahan tawanya.
"Ah, kalau kau ingin melihatku mati, kau bisa langsung membaca surat itu. Professor aku mohon, tolong kembalikan padaku." Lee Seol memohon.
"Kenapa?"
"Kalau kau membaca surat itu mungkin aku akan sangat malu dan enggan untuk bertemu denganmu lagi."
"Untuk itulah kau pergi ke Egypt?" tanya Profesor.
"Ah, aku pergi ke Egypt---" Lee Seol menyadari sesuatu. "Ah, Profesor, apa kau sudah membaca surat itu??"
Professor Nam Jung Woo bahkan hafal isi surat Lee Seol, "Professor, saat aku tiba di Egypt, Aku berharap kau masih single dan setiap minggu kau akan makan ramen sendiri di rumah. Aku merasakan ketulusan dari surat itu." jawab Profesor seraya tersenyum.




 "Ah ternyata kau sudah membacanya." Lee Seol menunduk malu.
"Pemilihan umum sudah mulai akan dilaksanakan akhir-akhir ini, tapi ternyata Sang Princess pergi ke Egypt. Aku sangat mencemaskanmu. Kau ingin pergi ke Egypt tapi tidak memberitahu siapapun." ucap Profesor Nam Jung Woo.
"Profesor, setelah membaca surat itu, kau masih mengkhawatirkanku?" tanya Lee Seol, ia senang ternyata Profesor lebih care dari pada yang ia kira.
"Apa aku juga harus mencemaskan keselamatanmu atau kesehatanmu saat disana?"
"Profesor teruslah untuk mengkhawatirkanku.." jawab Lee Seol. Hahaa..
"Tapi, kenapa kau tidak ingin menjadi Princess?" tanya Professor.
"Karena.. Karena aku sangat menyukai kehidupanku saat ini. Dan, aku juga tidak ingin memiliki musuh. Kau tau, nanti saat aku menjadi seorang Princess dan aku akan menjadi terkenal. Pasti ada saja golongan orang yang akan anti padaku. Dan, tentu saja, kakakku akan menjadi leader dari golongan anti itu." jawab Lee Seol.
Profesor hanya tersenyum mendengar penjelasan fan sekaligus penggemarnya itu.


 Kemudian, Lee Seol menerima telepon dari ruang organisasi, teman-temannya di ruang organisasi mengabarkan pada Lee Seol kalau keadaan sudah mulai kacau. Beberapa wartawan banyak yang menelpon ke ruang organisasi untuk menanyakan tentang keberadaan Lee Seol. Lee Seol segera melihat keadaan, ia berkata pada Profesor, "Profesor, aku permisi dulu." ucap Lee Seol, ia hendak melihat keadaan yang terjadi. Lee Seol berada di lantai dua, dari lantai dua ia melihat kerumunan wartawan tengah mengepung kampus.


 Lee Seol kembali menemui Profesor Nam Jung Woo, dan ia berkata dengan cemas. "Aku pasti sudah ditemukan sekarang." ucapnya.


Reporter Yoo Gi Gwang menginformasikan langsung dari kampus Lee Seol. "Di duga, ini adalah tempat dimana Princess menjalani pendidikannya. Princess Lee Seol yang merupakan keturunan langsung dari Kaisar Soon Jong dan anak perempuan dari Lee Yoon Chong. Park Hae Young yang merupakan cucu dari pemilik Dae Han Group diduga merupakan tunangan dari Princess dan hal ini yang menjadi fokus pemberitaan. Dikabarkan bahwa Dae Han Group mencoba memutar balikkan fakta dan diduga Dae Han Group membuat skema keuangan dibalik semua ini."

presiden pihak Kubu Kontra (The Gum Ja Party) senang melihat berita itu, ia beranggapan kalau pihak pro pasti akan kualahan (?) mengatasi hal ini.


Park Hae Young yang melihat tayangan itu, segera menghubungi Lee Seol.
"Hallo. Cepat kau keluar dari rumah dan pergi ke suatu tempat yang tidak dapat diketahui siapapun. Aku akan menghubungimu lagi nanti dan aku akan menemuimu di tempat itu." ucap Park Hae Young.
Lee Seol berteriak.. Ia tengah dikejar-kejar oleh wartawan.. Hahaa.. Lee Seol dibantu oleh Profesor Nam Jung Woo untuk menghindari serbuan wartawan. Lee Seol berlari seraya menerima telepon dari Park Hae Young.
Park Hae Young kesal. "Apa?! Kau ada di kampus.?!!"
Park Hae Young benar-benar kesal, ia sudah menyuruh Lee Seol untuk tetap di rumah tapi kenapa Lee Seol malah ke kampus. Ckckc.. Semua ini bermula karena masalah surat. Hahaa..

Lee Seol bersama Profesor berlari secepat mungkin, untuk bisa menghindari wartawan.
"Bagaimana ini?" ucapnya panik seraya terus berlari.

No comments:

Post a Comment