Thursday, September 8, 2011

Sinopsis My Princess episode 5

Lee Seol benar-benar terkesima saat melihat istana megah yang ada di hadapannya. Istana? Sebuah istana megah yang amat sangat cantik. Istana yang terlihat nyaman, tapi nanti saat Lee Seol memasukinya, ia harus mengobarkan banyak hal dan menghadapi banyak hal dari tawa sampai tangis :)

Lee Seol menatap takjub sekelilingnya. Kakek berkata, "Apa semua ini membuatmu senang?" tanya kakek seraya tersenyum lega.
"Ini sangat cantik dan indah." jawab Lee Seol. "Aku bahkan tidak tau, negara kita memiliki istana seperti ini?"
"Istana ini sengaja disembunyikan dari perhatian dunia, tidak banyak orang yang tau tentang istana dan saat pembangunannya. Karena istana ini menunggu pemilik yang sebenarnya datang." jawab Kakek.
Seekor kupu-kupu biru terbang ke arah Lee Seol. Lee Seol tersenyum. Kupu-kupu itu hinggap di bahu Lee Seol kemudian terbang ke dalam istana. Semua orang memperhatikan kupu-kupu itu, mereka merasa takjub. Kupu-kupu merupakan lambang kebaikan dan keberuntungan.
Kakek berkata, "Ini merupakan sebuah tanda keberuntungan."
Lee Seol tersenyum.
"Kaisar pasti sudah sangat lama untuk menunggu anda." ucap Kakek.
Lee Seol, Kakek dan Ayah Yoon Joo memasuki istana, disertai dengan para pengawal. Kakek bertanya, "Bagaimana perasaanmu setelah berkeliling?"
"Ini sangat luas." jawab Lee Seol.
"Ini memang sedikit sangat luas bila hanya ditinggali oleh satu orang. Tapi, kau akan segera menikah dan memiliki anak dan kemudian membentuk keluarga kerajaan." jawab Kakek.
"Menikah?" tanya Lee Seol terkejut.
Kakek tertawa, "Itu akan menjadi topik yang akan dibicarakan di masa yang akan datang. Minggu depan akan diadakan sebuah conference pers berikut peresmian bahwa kau sudah kembali ke dalam istana. Untuk sekarang, kau bisa beristirahat."
"Sebenarnya, aku masih sangat canggung dengan kata-kata Princess dan keluarga kerajaan. Salah satu alasanku memasuki istana, karena banyak orang diluar sana yang sudah menghina ayahku. Dan, aku hanya tau bahwa kau yang dapat mengatasi hal itu."
Kakek tersenyum.
"Ada seseorang yang menunggu di dalam." ucap Ayah Yoon Joo.
"Seseorang?" tanya Lee Seol.
"Ibumu datang untuk melihatmu." jawab Kakek.
"Ibu?" Lee Seol senang mendengar ibunya datang.
Pintu besar sebuah ruangan megah dibuka, dan Lee Seol berteriak senang saat melihat ibunya. "Ibuu.."
Ibu Lee Seol pun senang melihat anaknya. Lee Seol segera berlari menghampiri ibunya, tapi ibunya menjadi sangat canggung. Ibu Lee Seol memundurkan langkahnya, ia sangat canggung untuk memeluk anak angkatnya.
"Ibu?" tanya Lee Seol.
"Yang Mulia.. Princess" kata Ibu Lee Seol dengan sangat canggung.
"Ibu, ada apa denganmu?"
"Ah, bagaimana ini. Aku benar-benar tidak tau, kalau kau adalah seorang Princess.. Uh, bagaimana ini?"
"Ibu.. Kau ini kenapa?" Lee Seol menahan tangisnya. Ia sudah ingin benar-benar memeluk ibunya untuk meluapkan rindu (dari atas ampe bawah, banyak kata-kata puitisnya, hahaa..)
"Aku pikir, akan lebih baik jika aku membesarkanmu dengan memberikan yang terbaik, tanpa mengetahui kalau kau adalah seorang princess."
"Ibu.." panggil Lee Seol, ia memeluk ibunya erat.
Ibu Lee Seol panik, ia bertanya pada kakek yang berdiri tidak jauh darinya. "Uh, bagaimana ini? Hmm.. Apa aku boleh memeluknya?" tanya Ibu.
Kakek mengangguk. Whoa.. Ibu Lee Seol senang bukan kepalang, ia langsung membalas pelukan erat anaknya. Ibu Lee Seol menangis haru, "Anakku.. My Princess.. Anakku.."
Kakek berbisik pada Ayah Yoon Joo, "Apa yang sedang dilakukan Park Hae Young??"

Dan scene berganti saat Park Hae Young berada di kantor, ia tengah membaca pengumuman yang tertempel di mading. Asisten Park Hae Young berkata, "Berita sudah menyebar dengan cepat. Berita utama akan membuat judul seperti ini -Hubungan cinta antara Princess dan cucu dari Dae han Group Park Hae Young- atau -Menggabungkan antara bisnis dan cinta.- Dan mungkin akan sangat banyak reporter yang datang untuk mengklarifikasi hal itu."
Kemudian tiba-tiba Reporter Yoo Gi Gwang datang. Ia memotret Park Hae Young.
Park Hae Young menatapnya tidak bersahabat. "Sepertinya, pihak perusahaan sudah dengan sangat mudah membiarkan orang lain masuk begitu saja. Apalagi seorang reporter tingkat tiga." ucap Park Hae Young, ia mengejek Reporter Yoo Gi Gwang sebagai reporter kelas 3.
"Aku datang dan memotret bukan untuk membuat spekulasi. Tapi mencari variable fakta." jawab Reporter Yoo Gi Gwang.
Di rumah Lee Seol. Oh Yoon Joo datang ke tempat penginapan Lee Seol (yang juga tempat tinggal Dan-ah..). Saat itu ia bertemu dengan Dan-ah. Tau dong gimana juteknya Dan-ah dengan sesuatu yang berkaitan dengan Lee Seol. Hahaa.. Dan-ah melayani pertanyaan Oh Yoon Joo dengan jutek.
Oh Yoon Joo bertanya, "Kau kakak Lee Seol bukan?"
"Ya."
"Setelah Princess kembali ke istana, mungkin reporter yang akan meliput tentang kehidupannya akan semakin banyak. Dan mungkin hal itu juga akan mengganggumu. Tapi, aku sudah menyiapkan beberapa bodyguard untuk mengatasi semuanya."
"Kau pikir, harus ada berapa banyak bodyguard dan sampai kapan? Lokasi ini sangat terbuka untuk umum dan sangat tidak penting kalau kau mau mengirim bodyguard untuk kami." jawab Lee Dan (Dan-ah). "Tidak ada gunanya kalau kau ingin membuatku stress dan mengambil semuanya dariku."
Oh Yoon Joo tersenyum, "Namamu Lee Dan kan? Kalau kau perlu sesuatu, kau dapat menghubungiku kapanpun kau mau." Oh Yoon Joo menyerahkan kartu namanya.
Setelah Oh Yoon Joo pergi, Lee Dan menyimpan kartu nama itu di laci. Saat menyimpannya, ia teringat dengan benda milik Lee Seol yang juga di simpan di laci yang sama. Lee Dan mengambil benda itu, sebuah benda bersejarah (tas kecil milik Ratu Myenseong). Entah apa yang dipikirkan oleh Lee Dan, mungkin ia akan membawa tas berserjarah Lee Seol itu pada Oh Yoon Joo?
Ibu Lee Seol, Lee Seol, Kakek Park Hae Young dan Ayah Yoon Joo berbincang bersama di sebuah ruang tamu megah. Masih dalam keharuan, Ibu Lee Seol dan Lee Seol dengan bersamaan menyeka air mata mereka.
Kakek berkata seraya tersenyum, "Sudah lebih dari 10 tahun aku mencari dan terus mencari Princess. Aku juga berdoa, disetiap doaku aku selalu menyertakan Princess, agar ia bisa hidup dengan selamat."
Ibu Lee Seol mengangguk mengerti, "Aku memiliki cerita indah bersama Lee Seol. Aku membesarkannya seperti anakku sendiri. Aku bahkan selalu berpikir, seperti apa orang tua kandungnya. Saat kecil, Lee Seol memang berbeda. Ia memiliki kewibawaan dan kharisma. Ia paling tidak suka bila melihat ketidak adilan didepannya. Lee Seol juga sangat rajin belajar, sehingga aku tidak perlu susah-susah untuk menyuruhnya belajar."
"Benarkah?" tanya Kakek.
Lee Seol menjawab seraya tersenyum. "Mungkin seperti itu." Ia tersenyum lagi. "Ah, memang seperti itu.."
"Anakku adalah seorang Princess.." kata Ibu Lee Seol, ia menangis.
Lee Seol mengantarkan Ibunya, ibunya akan segera pulang. Ibu Lee Seol berkata seraya mengelus-ngelus pipi Lee Seol. "Ibu akan pulang. Jaga dirimu baik-baik dan jangan menangis." ucap Ibu Lee Seol yang sekuat tenaga menahan dirinya untuk tidak menangis.
Lee Seol mengangguk mengerti. Ibu Lee Seol dipersilakan untuk menaiki mobil, mereka saling melambaikan tangan. Lee Seol terus memperhatikan mobil yang membawa ibunya.
Kakek berkata pada Lee Seol, "Apa kau ingin kembali pulang?"
"Ibu pasti akan terus menangis di mobil. Aku datang ke sini dengan tibe-tiba.Dan aku juga belum mengepak semua barang-barangku. Bisakah aku pulang sebentar?" tanya Lee Seol.
"Kau mengatakan kalau kau ingin menjernihkan atau mengembalikan nama baik ayahmu. Maafkan aku, hal itu bukan dibawah kendaliku. Semua itu hanya dapat dilakukan oleh kekuasaan sepenuhnya yang dimiliki oleh keluarga kerajaan. Dan kau adalah satu-satunya yang dapat membangun kembali keluarga kerajaan itu. Kalau kau memilih untuk tidak melakukannya, tidak ada lagi yang bisa orang-orang disekitarmu perbuat. Kau harus memutuskan dari sekarang, kau akan tinggal di istana ini atau kembali pulang?" tanya kakek memastikan jawaban Lee Seol.

Ayah Yoon Joo dan kakek Park Hae Young berbincand di ruangan kakek. Ayah Yoon Joo memberitahukan, "Princess sangat lelah dan sekarang ia sudah mulai tertidur."
Kakek mengangguk mengerti. Kemudian Oh Yoon Joo datang untuk menemui kakek dan ia dipersilakan duduk.
"Duduklah." pinta kakek pada Oh Yoon Joo.
Yoon Joo duduk dan kakek mulai berkata, "Kau pasti sudah mengetahui kalau Princess sudah kembali ke istana. Aku sangat mengetahu pengabdian kau dan ayahmu, untuk itulah sebelum aku memberikan semua asset hartaku, aku ingin melakukan sesuatu untukmu. Apa yang harus aku lakukan untukmu?" ucap Kakek. "Aku ingin memberikan Museum itu padamu."
Oh Yoon Joo segera menolaknya. "Ah, tidak aku tidak menginginkannya." Ah, tentu saja Yoon Joo menolak, dibandingkan dengan harta park hae young, Museum belum ada apa-apanya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya kakek.
"Aku ingin mengabdikan seluruh hidupku untuk melakukan apa yang diinginkan olehmu. Aku ingin mengontrol fondasi keluarga kerajaan. Sehingga Park Hae Young tidak bisa melakukan apa yang dia inginkan." Jawab Oh Yoon Joo.
Ayah Yoon Joo terkejut mendengar hal itu, sedangkan kakek tersenyum seraya berkata "Terimakasih, aku sangat berterimakasih."
Kakek menyetujui permintaan Oh Yoon Joo, maka Oh Yoon Joo akan menjadi salah seorang yang memiliki kekuasaan penuh untuk mengontrol fondasi keluarga kerajaan. God. Itu artinya, akses Oh Yoon Joo untuk menyingkirkan Lee Seol akan sangat mudah.

Ayah Yoon Joo yang mengetahui tipical anaknya, ia memanggil Oh Yoon Joo untuk berbicara berdua dengannya. Mengetahui kalau ada motif lain dari perencanaan Oh Yoon Joo sebagai pemegang kontrol istana, Ayah Yoon Joo berkata, "Apa maksudmu? Apa yang sedang kau rencanakan. Posisi itu adalah posisi yang tidak kau inginkan."
Yoon Joo menjawab, "Aku hanya ingin membuat kakek senang."
"Pagi ini, pergilah menemuinya dan katakan padanya kalau kau tidak akan melakukan hal itu."
"Tidak, aku tidak akan mengubah keputusanku. Aku tidak ingin membuat hubunganku dengan ayah menjadi bertambah renggang. Aku tidak ingin hal itu terjadi." jawab Yoon Joo.
Lee Seol memasuki kamar pribadinya. Ia juga masih terkesima dengan kemewahan yang ada. Lee Seol memperhatikan setiap sudut kamar megah itu. Kemudian dua asisten pribadinya memperkenalkan diri.
"Izinkan aku memperkenalkan diriku, Princess. Aku bertanggung jawab untuk mengambil andil dalam pelaksanaan yang dilakukan di dalam istana. Aku adalah kepala pelayan asisten istana, Hong in ae." ucap Hong In Ae.
Oh Yoon Joo perlu mata-mata untuk mengetahui segala aktivitas istana, Nah, untuk itulah ia mengutus Hong In Ae ke istana. Jadi, Hong In Ae ini mata-matanya Oh Yoon Joo, semua yang terjadi di dalam istana, akan dilaporkan kepada Oh Yoon Joo.
Satu lagi pelayan istana memperkenalkan dirinya, "Aku adalah asisten pelayan. Mi Shin So." kata Mi Shin So serya membungkuk memberi hormat.
Lee Seol tersenyum, ia lalu berkata. "Aku tidak tau akan sampai kapan aku ada di sini. Tapi, aku mohon, tolong jagalah aku."
Kedua pelayan itu tertegun.
Lee Seol hanya tertawa, "Ah, sepertinya aku sangat lelah. Biarkan aku sendiri."
"Baiklah Yang Mulia, kami pamit undur diri." kedua pelayan itu memundurkan langkahnya lalu pergi.
Lee Seol melihat sekelilingnya, yang paling menyita perhatiannya adalah deretan sepatu cantik yang berkilau dan baju-baju mahal yang tergantung mewah. Lee Seol terkagum, tidak sabar untuk mencoba semua baju itu dan semua sepatunya. Lee Seol mengambil satu gaun, ia memilih gaun warna merah. Kemudian Lee Seol segera mencoba gaun merah itu. Ia memantulkan dirinya di cermin, di depan cermin Lee Seol berputar-putar. Ia lalu mengambil sepatu yang senada dengan gaun merah yang dipakainya.
Lee Seol memakai sepatu, ia lalu tersenyum bahagia. haahaa.. Lee Seol kembali berputar di depan cermin, ia menyelaraskan antara sepatu dan gaun yang dipakainya. Saat tengah beputar-putar, ia terjatuh dan kemudian mengeluh, "Ah, sepatu ini tidak cocok." ucapnya seraya memijat-mijat kakinya.
Teman Lee Seol membaca status web yang dibuat oleh Lee Seol, "Malam pertamaku di tempat yang tidak ku kenal. Hati dan tubuhku berada dalam 39.5 derajat?" ia lalu terkejut. "Ah, mungkinkah Lee Seol sakit? Bukankah suhu tubuh seperti itu akan membuat seseorang mati."
Yang lain menjawab, "Ah, orang tidak akan mati semudah itu."

Kemudian professor Nam Jung Woo masuk ke ruang organisasi. Salah satu teman Lee Seol segera berkata dengan antusias. "Professor, Professor, Lee Seol sudah masuk istana."
Profesor Nam Jung Woo yang tidak mengetahui hal itu terkejut mendengarnya. "Benarkah? Apa sudah diberitakan?"
"Hmm. Saat aku membaca di web, sepertinya ia sakit."
"Oia Profesor, kau dipanggil untuk ke kantor direktur kampus."

Ternyata Yoon Joo juga ada di kantor direktur kampus, Yoon Joo membawakan lukisan cantik khusus untuk direktur kampus.
"Kau seharusnya tidak perlu repot-repot membawakanku seperti ini." ucap direktur kampus, ia melihat senang ke arah lukisan itu.
Kemudian direktur kembali bertanya, "Apa benar Princess berasal dari kampus ini dan ia juga murid dari Professor Nam?"
Yoon Joo tersenyum, "Untuk itulah, aku akan menawarkannya sebuah posisi dalam istana."
Direktur kampus mengangguk mengerti.
Profesor Nam Jung Woo masuk ke dalam kantor. Ia memberi hormat, kemudian direktur menyuruhnya duduk. Profesor Nam Jung Woo sedikit terkejut melihat kehadiran Yoon Joo di sana.

Profesor dan Yoon Joo berjalan beriringan. Yoon Joo berkata, "Sebuah posisi sebagai direktur fondasi keluarga kerajaan adalah posisi yang sangat bagus. Jadi pertimbangkanlah.."
"Sekarang, aku bukan Profesor yang buruk. Suatu seseorang yang tidak memiliki dukungan dan uang untuk posisi itu adalah seorang profesor yang berusia 32 tahun." jawab Profesor, kata-katanya sedikit menyudutkan.
"Apa maksudmu? Kau memiliki aku yang mendukungmu." jawab Yoon Joo.
"Benarkah? Baiklah, kalau begitu, dengan dukungan itu, beritahu aku letak istana Lee Seol. Aku akan menemui Princess?" tanya Profesor.
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Hanya menyapa." jawab Profesor seraya berlalu begitu saja. hahaa..
Bencana tengah melanda Park Hae Young, karena ulahnya yang sudah dianggap oleh kakek sebagai tindakan yang diluar batas. Maka kakek memutuskan untuk menarik kembali semua asset yang dimiliki Park Hae Young. Beberapa pengawal datang untuk memberitahukan hal itu pada Park Hae Young. "Kami memiliki daftar barang-barang dan asset yang akan diambil kembali. Dan rumah ini juga masih atas nama Presiden Dae Han (Kakek Park Hae Young.)"
Park Hae Young kesal, "Ya. Ya. Aku tau, cepat pergilah."
Pengawal itu bukannya pergi malah berkata, "Kita bisa memulainya." dan mereka mulai menyerbu rumah Park Hae Young. Dengan cepat, mereka menempeli stiker merah bertuliskan "recover" di semua properti yanga ada di rumah itu. Park Hae Young jelas kesal, "Hei, kalian! Apa yang kalian lakukan!! -recover- Ah, apa-apaan ini.. Baiklah, aku akan bertanya." Park Hae Young menahan marahnya. "Rumah ini memang milik kakek dan aku sangat mengerti perkara itu, tapi semua barang-barang yang ada di tempat ini aku membelinya sendiri."
"Tuan muda juga memakai kartu kredit yang diberikan oleh Presiden Dae Han Group." jawab Pengawal itu. Haa.ha..
"Lalu?"
"Lalu, semua barang-barang yang tuan muda beli dengan cash di luar negeri juga akan diambil."
"Benarkah? Aaah, bagaimana bisa seperti ini."
"Maaf tuan muda, kami harus melakukan hal ini sebagai bukti bahwa kami sudah melakukan tugas kami." ucap pengawal itu seraya menempelkan stiker merah ke cangkir yang dipegang oleh Park Hae Young. Kemudian pengawal itu mengangkat kaki Park Hae Young ke atas meja, untuk men-stiker-i sepatu Park Hae Young. Ampun deh.. xp
"Ah, benar-benar tidak habis dipikir.." Park Hae Young kesal. Kekesalannya bertambah saat pengawal itu memberikan koper padanya. Hahaa.. Diusir, Park Hae Young diusir dari rumahnya sendiri.
"Ini pasti akan menjadi hal yang sangat sulit bagimu, karena harus keluar dari rumahmu sendiri di tengah musim dingin seperti ini."
"Ah, apa kau mengusirku?" bentak Park Hae Young.
"Kami harus segera mengunci pintu."
Yah, dengan terpaksa, Park Hae Young harus keluar dari rumahnya. Ia pergi ke sebuah restaurant untuk menemui Yoon Joo. Yoon Joo yang melihat Park Hae Young datang dengan membawa koper besar, menjadi sangat prihatin. Park Hae Young kesal, "Bagaimana hal ini bisa terjadi??" ucap Park Hae Young seraya duduk.
Yoon Joo memberikan sebuah dokumen yang berisi aset yang sudah disita. "Oppa, kalau seperti ini, kau akan tinggal dimana?"
"Pyeongchangdong kosong tidak ada yang menempati." jawab Park Hae Young. "Aku akan tinggal--" kata-katanya terputus saat melihat catatan aset kalau Pyeongchangdong juga masuk ke daftar aset yang disita.
"Ah, bagaimana bisa seperti ini?! Ah, benar-benar membuatku gila."
"Barang-barang yang disita adalah barang-barang mewah dan aset." jawab Yoon Joo.
"Cheongdamdong apartement, Kimpo villa dan jejudo resort.." Park Hae Young membacakan daftar asetnya yang disita. "Oh, My!! Jejudo itu milikku, itu hadiah ulang tahunku saat berumur 8 tahun. Siapa yang melakukan hal seperti ini."
"Jejudo resort adalah kado pemberian ayahmu saat kau berulang tahun. Tapi, itu masih atas nama ayahmu dan sekarang sudah beralih nama menjadi milik kakek.." jawab Yoon Joo.
Lee Seol sudah layaknya seperti Princess, ia pergi ke sebuah mall Dae Han Group yang megah. Lee Seol hanya tinggal tunjuk sana tunjuk sini (?) dan semua barang akan langsung menjadi miliknya. Lee Seol dikawal ketat oleh banyak pengawal, ia juga didampingi oleh asisten kepala pelayan.
Asisten kepala pelayan itu bertanya heran, "Pada akhirnya Yang Mulia hanya membeli jepit rambut untuk Yang Mulia sendiri. Sedangkan semua barang-barang ini Yang Mulia belikan untuk orang lain."
Lee Seol tersenyum. "Itu semua khusus untuk ibu dan kakakku. Aku sekarang sudah tinggal di istana dan mungkin rumahku akan menjadi sangat sepi."
Di waktu yang bersamaan pula, Park Hae Young juga ada di mall itu. Karena semua barang-barangnya di sita termasuk pakaian dalamnya.. haha. jadi Park Hae Young harus membeli yang baru. Ia mencari ukuran underwear yang cocok. Tanpa sengaja, rombongan Lee Seol datang mendekati Park Hae Young, rombongan itu sama sekali tidak mengetahui kehadiran Park Hae Young. Park Hae Young segera bersembunyi di balik patung boneka yang berbikini. Park Hae Young bergumam, "Ah, kenapa orang itu ada di sini..!"
Pelayan mall heran melihat apa yang dilakukan Park Hae Young, Park Hae Young hanya meringis dan berkata, "Kembali bekerjalah.."
Dan saat Park Hae Young menengok, ia langsung mendapati Lee Seol tengah melihat ke arahnya. Park Hae Young terkejut.
Lee Seol berkata, "Apa yang kau lakukan di sini -pewaris tunggal mall Dae Han Group dan perusahaannya-?" ejek Lee Seol.
"Aku?"
"Baiklah. Aku masih sangat sibuk dengan tugas-tugas resmiku. Aku akan pergi." jawab Lee Seol seraya berlalu begitu saja.

Kesulitan Park Hae Young makin bertambah karena semua kartu kreditnya terblokir. Ia tidak bisa menggunakan kartu kreditnya untuk membayar underwear yang baru saja ia beli. Dengan kesal, Park Hae Young segera menyusul rombongan Lee Seol.
Park Hae Young memaksa masuk ke dalam lift. Ia ikut berdesakan dengan Lee Seol dan pengawalnya. Lee Seol menatap sombong ke arah Park Hae Young. Haha.. Sekarang yang jatuh akan semakin diinjak-injak, dulu Park Hae Young bisa semena-mena terhadap Lee seol, sekarang bergilir nasibnya. :D

Saat rombongan Lee Seol keluar dari Lift. Park Hae Young mendapat telepon dari pihak pemerintahan, presiden ingin menemui dan berbicara dengannya. "Ya, ini Park Hae Young. Di mana?"
Park Hae Young berdiskusi dengan Presiden.
"Aku dengar adanya pelarangan untuk pergi ke luar negeri. Apa kau bertanggung jawab atas semua itu?" tanya Park Hae Young.
"Tidak, aku bahkan baru mengetahuinya. Aku baru mengetahui banyak hal darimu. Mungkin ini akan menjadi sangat sulit bagimu." jawab Presiden.
Park Hae Young menanggapi, "President, kenapa kau menyetujui dibentuknya kembali keluarga kerajaan?"
"Seperti yang sudah aku katakan pada rakyat Korea. Bahwa dengan pembentukan keluarga kerajaan maka masyarakat korea akan dipaksa untuk mengetahui lebih dalam mengenai sejarah kehidupan Korea."
"Tapi, sangat tidak masuk akal dengan menghibahkan semuanya pada seorang gadis yang belum dewasa seperti itu?"
"Darah bangsawan dan darah yang lain akan sangat berbeda." jawab Presiden.
"Tapi, sungguh tidak bertanggung jawab. Kalau kau mengetahui hal itu, kau juga pasti akan merubah keputusanmu. Tentang pembentukan kembali keluarga kerajaan, pada awalnya akan menyita banyak perhatian. Tapi pada akhirnya, kau tidak akan tau bagaimana cara meng-handlenya." jawab Park Hae Young,
"Aku juga berpikiran seperti itu." Yah, Presiden juga ragu sama pembentukan keluarga kerjaan ini. Ia lalu melanjutkan. "Kita tidak bisa mencancel pembentukan keluarga kerajaan itu dengan sepihak, terlebih karena konflik yang terjadi antara pemerintahan dan Gum Ja Party. Dan, alasan terbesar adalah kakekmu. Menurutmu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Presiden pada Park Hae Young.
Tebak, apa yang Park Hae Young katakan. Jawabannya ada di scene berikutnya.
Presiden menemui Presiden Gum Ja Party, mereka tengah pendonoran darah. Beberapa reporter eksklusif datang untuk meliput kegiatan itu. Setelah reporter pergi, mereka mulai membicarakan tentang pembentukan kembali keluarga kerjaan. Presiden sudah mengetahui kalau orang dibalik semua isue buruk tentang ayah Lee Seol adalah kubu kontra Gum Ja Party. Presiden berkata, "Tidak ada jalan lain, tidak mungkin kita menyembunyikan princess di suatu tempat. Princess sudah memasuki istana. Dan seharusnya kau tidak menyebarkan isue seperti itu. Karena pada akhirnya keputusan masyarakatlah yang akan menang. Dan jangan lagi membuat semuanya jadi sulit bagi Princess."
Profesor Nam Jung Woo mengunjungi Lee Seol. Lee Seol merasa senang bukan kepalang saat mengetahui kalau profesor datang. Ia langsung berlari ke ruang tamu mewah. Ekspresi kayak gitu seperti saya yang kedatangan Yoon Shi Yoon (lho? haha). Lee Seol bertanya pada asisten pelayan, "Unnie, bagaimana penampilanku?"
"Kenapa tiba-tiba yang mulia bertanya seperti itu?" tanya asisten pelayan.
"Ah, aku bertanya.." Lee Seol memberi uap pada tangannya lalu menyisir rambutnya dengan jari, "Apa aku terlihat cantik."
"Ya." jawab asisten pelayan.
Lee Seol kemudian bertemu dengan Profesor, ia memanggil profesor dengan manja. "Profesor.."
Profesor hanya tersenyum manis. Ah, manis banget senyumnya..
Lalu profesor dijamu oleh secangkir teh. Profesor berkata, "Aku dengar kalau kau sakit, bagaimana keadaanmu?"
"Ah, bagaimana bisa aku jatuh sakit. Sekarang aku sedang berada di dalam istana." jawab Lee Seol.
"Kau masih seperti yang dulu."
"Profesor, aku teguh pada pendirianku.."
"Kau sudah tinggal di istana dan akan ada banyak kejadian yang tidak diharapkan terjadi dan akan sulit untuk diatasi. Sama seperti raja-raja yang lain, akan mendapat keadaaan seperti itu. Jadi, saat kau menghadapi masalah, dan kau tidak bisa menyelesaikannya jadi datanglah padaku." ucap Profesor.
Haahaa.. Ucapan Profesor ini sangat amat membuat Lee Seol terharu.
Kemudian, Handphone Lee Seol berdering. Park Hae Young menelponnya.
"Angkatlah" suruh Profesor.
Lee Seol mengangguk, "Profesor, permisi sebentar."
Kemudian, ia menerima telepon dari Park Hae Young.
"Hallo.."
"Kau ada di mana?" tanya Park Hae Young yang berada di sebuah mini market. Ia membeli banyak majalah yang topiknya membicarakan tentang dirinya dan Lee Seol.
"Aku sudah katakan padamu. Untuk tidak menghubungiku lagi, mengerti?"
"Aku menghubungiku karena aku ingin.. Cepat katakan kau dimana?"
"Aku sudah memasuki istana, Jangan bilang kau akan datang dan menemuiku."
"Katakan yang jelas kau ada dimana? Kalau tidak aku akan membuat masalah."
Lee Seol kesal, suara meninggi. "Kita memang sudah membuat masalah akhir-akhir ini."
Profesor langsung menatap penasaran ke arah Lee Seol. Lee Seol hanya tersenyum, ia kembali memelankan suaranya.
"Ada banyak cara untuk membuat masalah terlebih lagi untuk pria dan wanita. Aku... Aku akan menikahimu." ucap Park Hae Young. Ia hanya ingin membuat Lee Seol khawatir dan pergi menemuinya, sehingga istana akan gempar karena Princess menghilang.
"Menikah??" Teriak Lee Seol dengan panik.
Lee Seol lalu pamit pada profesor untuk ke ruangan lain. Ia harus kembali menelpon Park Hae Young untuk mendapat informasi yang jelas. "Hallo, kenapa lama sekali kau angkat?"
"Aku sedang sibuk." jawab Park Hae Young.
"Kenapa kau ingin mengumumkan pernikahan kita?" Lee Seol panik.
"Kau, scandal terbesar dirimu akan memberikanku banyak keuntungan. Atau kau lebih memilih untuk menemuiku?"
Karena panik, Lee Seol langsung menutup teleponnya. Ia menatap Profesor lalu berkata, "Profesor, maafkan aku, tapi sepertinya kita harus berbicara.. "Profesor, kita harus ke hutan."" Lee Seol lalu mengajak Profesor ke ruangan lain. Kedua pelayan pribadi Lee Seol segera mengikuti Lee Seol, mereka khawatir dan tidak mengerti dengan kata yang diucapkan Lee Seol.
Lee Seol menarik Profesor masuk ke sebuah ruangan, lalu ia berkata pada kedua pelayan pribadinya. "Ingat, apapun yang kalian dengar jangan membuka pintu. Dan sebaliknya. Jika kalian tidak mendengar apapun, jangan membuka pintu juga." suruh Lee Seol dengan sungguh-sungguh pada kedua pelayan pribadinya.
Kedua pelayan itu kebingungan. Lee Seol segera menutup pintu, lalu menghampiri Profesor.
"Profesor.."
"Apa yang terjadi?" tanya Profesor Nam Jung Woo.
"Tolong aku.. Park Hae Young, ingin mengumumkan rencana pernikahan kami." ucap Lee Seol.
Cara satu-satunya untuk membatalkan rencana (palsu) Park Hae Young adalah dengan menemuinya. Profesor Nam Jung Woo bersedia untuk mengantarkan Lee Seol untuk menemui Park Hae Young. Untuk bisa keluar dari istana tanpa diketahui oleh penjaga memang cukup sulit. Mereka harus mengendap-ngendap untuk bisa keluar dan tidak terdeteksi oleh cctv. Profesor Nam Jung Woo berhasil membawa Lee Seol masuk ke dalam mobil. Dan saat itu Gun-I melihatnya. Gun-I yang sekarang sudah menjadi asisten memasak itu melihat Lee Seol masuk ke dalam mobil. Kekhawatiran yang sangat terhadap keselamatan Lee Seol, membuatnya berpikir kalau Lee Seol sedang diculik.
Mobil Profesor Nam Jung Woo berhasil keluar dari istana tanpa ada yang mengetahui, kecuali Gun-I. Gun-I harus menyelamatkan Noonanya, jadi ia menyusul mobil Profesor Nam Jung Woo dengan menggunakan motor vespa (?). Profesor melihat Gun-I mengejar mobilnya dari kaca spion. Motor Gun-I mencoba menyamai kecepatan mobil Prof. Saat bersebelahan dengan mobil, Gun-I berteriak memanggil-manggil Lee Seol, "Noona, cepat turun. Noona, kau sedang dalam bahaya."
Lee Seol menjawab, "Aku tidak apa-apa, cepat menepi-lah.." Lee Seol mengkhawatirkan keselamatan Gun-I.
"Noona, kau dalam bahaya, Noona, turun.."
"Kau yang sedang dalam bahaya, menepilah.."
"Noona, cepat-cepat..."
Fokus mengemudi Profesor jadi teralihkan karena Gun-I dan Lee Seol yang saling berteriak. Dan, hasilnya.. Taraaa... Mobil Profesor dengan sukses menabrak plang jalan yang sedang dalam perbaikan.

Lee Seol berakhir dirumah sakit. Profesor selamat sedangkan Lee Seol mengalami luka. Hidungnya mimisan dan tangan sebelah kirinya memar-memar. Lee Seol dibawa ke rumah sakit kecil. Dokter di tempat itu berkata, "Tidak ada yang patah."
"Tapi, hidungku berdarah." jawab Lee Seol seraya menunjukkan kapas yang merah karena mimisan.
"Itulah masalahnya. Kau tidak bisa langsung diagnosa, peng-diagnosa-an akan dilakukan setelah beberapa hari. Tidak ada yang sakit kan?"
Kemudian Park Hae Young datang. Ia buru-buru menghampiri Lee Seol. "Apa yang terjadi?"
Dokter berkata, "Aku sangat tidak suka bila ada dua orang pendampingnya seperti ini. Kalian juga datang terpisah."
"Sebenarnya tidak perlu di rawat di rumah sakit. Tapi, kalau kau bersikeras ingin di rawat di rumah sakit. Maka pendampingnya harus melakukan registrasi" ucap Dokter kemudian pergi.
Park Hae Young kesal. "Apa-apaan ini, ada banyak rumah sakit kenapa memilih rumah sakit seperti ini?"
"Kau datang setelah mendapatkan telepon, dan kau tidak jadi melakukan press conference pengumuman pernikahan itu, kan tidak jadi, benar? benar?" tanya Lee Seol.
"Jadi, kau berpura-pura seperti ini agar aku tidak jadi melakukan hal itu? Begitu? Dan aku dengar, kalau kau yang mengemudi? Hei, sudah kubilang. Kau akan celaka bila bersamanya."
"Hei, kenapa kau berkata seperti itu pada profesorku." jawab Lee Seol. "Lagipula semua ini salahmu, aku terluka seperti ini saat aku hendak menemuimu. Sedangkan Profesor hanya membantuku."
"Sepertinya kau baik-baik saja. Cepat bangung." Park Hae Young menarik tangan Lee Seol.
Lee Seol kesakitan. Profesor segera menahan tangan Park Hae Young. "Apa yang kau lakukan pada pasien?"
Lee Seol masih merintih kesakitan.
"Hei, apanya yang sakit. Aku bahkan tidak menggunakan kekuatanku saat menarik tangannya." Park Hae Young membela dirinya.
"Apa sangat sakit?" tanya Profesor dengan cemas.
Lee Seol mengangguk. "Sepertinya tulangku keluar dari tulang rusukku."
Park Hae Young menjawab, "Bagaimana bisa seperti itu, aku katakan kalau aku menarikmu pelan."
"Sudah, kita bicarakan diluar." suruh Profesor pada Park Hae Young.
"Aku akan melakukan registrasi, beristirahatlah." kata Profesor pada Lee Seol.
Lee Seol mengangguk mengerti.

Park Hae Young dan Profesor Nam Jung Woo segera ke tempat registrasi. Park Hae Young diberikan sebuah formulir untuk diisi. Ia mulai mengisinya, tapi tinta pulpen yang digunakannya tidak berfungsi. Profesor segera mengambil formulir itu, lalu mulai mengisinya dengan pulpennya sendiri. "Lupakan." ucap Profesor.
Belum sempat profesor menuliskan formulir, Park Hae Young merebut pulpen dan formulir dari Profesor. Dan itu terjadi beberapa kali, haha.. lucu deh, rebutan formulir. Mereka saling berkata, "Karena ia terluka biar aku saja yang melakukan hal ini." ucap Park Hae Young.
"It's fine.." jawab Profesor seraya merebut formulir.
Park Hae Young merebut kembali formulir itu, "Gaji seorang Profesor mana cukup untuk membayar semua ini."
Profesor menjawab, "Aku masih bisa membiayai my dear student."
"Apa? Begini, ada hal yang harus aku selesaikan dengan Lee Seol. Kalau kau mempercayai, maka aku akan membatalkan press conference pertunangan kami. Jadi, aku harap kau pergilah." jawab Park Hae Young.
Gun-I mengendap-endap masuk ke rumah sakit, ia hendak menemui Lee Seol. Melihat kedatangan Gun-I, Lee Seol bertanya, "Bagaimana mereka? Apa mereka bertengkar?"
"Noona, apa dia.. Dia benar-benar tunanganmu?" tanya Gun-I dengan polos.
"Sudah kubilang bukan." jawab Lee Seol. "Ah, benar-benar. Sepertinya aku harus menyelesaikan hal ini sekarang juga.." Lee Seol bangkit dari tidurnya.
Gun-I terkejut, "Noona ternyata kau tidak apa-apa, padahal tadi kau terlihat sangat kesakitan."
"Itu tida penting lagi sekarang. Kau, laki-laki restaurant siapa namamu?" tanya Lee Seol.
"Noona, bisa memanggilku Gun-I. Dan kau bisa dengan nyaman berbicara denganku." jawab Gun-I dengan manis.
"Oh, Gun-I, Noonamu ini ingin meminta kebaikan hatimu. Maukah kau mendengarkannya?"
Gu-I menatap Lee Seol.
Apa coba permintaan Lee Seol? Hahaa.. Lee Seol menyuruh Gun-I untuk menggantikan posisinya sebagai Princess sementara waktu, hanya untuk mengelabui asisten pribadinya. Gun-I memakai pakaian tidur Princess lalu memakai bandana bunga. Cute deh.. Ia lalu menyelimuti seluruh tubuhnya saat asisten pelayan Lee Seol datang. Gun-I menyembunyikan dirinya di dalam selimut. Asisten pelayan Lee Seol berhasil dikelabui, setelah asisten itu keluar kamar Lee Seol. Gun-I langsung mengunci pintu kamar.
Park Hae Young menjaga Lee Seol sampai tengah malam, ia juga tidak tertidur. Lee Seol menginggau, "Ayah... Sakit.. Ayah.. Ini sakit.."
Park Hae Young memperhatikan Lee Seol yang menginggau. Kemudian, igauan Lee Seol semakin aneh, hihi.. "Lapar.. Aku lapar.."
"Ah, seharusnya aku tauu.."
Lee Seol terbangun, "Apa? Apa ada yang terjadi?"
"Kau menginggau?" jawab Park Hae Young.
"Kapan aku mengigau.." jawab Lee Seol. Lee Seol kemudian terbatuk-batuk, ia meminta diambilkan minum oleh Park Hae Young. "Aku haus."
Park Hae Young mengambilkan minum. Lee Seol memintanya untuk membantunya untuk meminum air.
"Kau ini, baru beberapa hari di istana sudah berkelakukan buruk seperti ini." jawab Park Hae Young.
"Tanganku tidak bisa digerakkan, sungguh." Lee Seol berkilah.
"Baiklah. Ini.." Park Hae Young mengangkat kepala Lee Seol lalu meminumkan air pada Lee Seol. "Cukup."
Lee Seol tersenyum, "Ah, aku benar-benar hidup sekarang." ucap Lee Seol seraya membersihkan sisa minuman di mulutnya.
Park Hae Young kesal, ia memegang tangan Lee Seol. "Kau bilang tanganmu sakit dan tidak bisa digerakkan? Lalu ini apa? Ini kaki?"
"Ah, tangan kananku yang sakit tapi tangan kiriku juga merasakan hal itu.." jawab Lee Seol.
"Kau berbohongkan tentang sakitmu ini?" tanya Park Hae Young dengan curiga.
"Ah, kalau kau berpikiran seperti itu, terserah kau saja." jawab Lee Seol. Ia kembali tertidur, tapi kemudian perutnya terasa sangat sakit. Ia membalikan badannya ke arah Park Hae Young, lalu menatap Park Hae Young. Hehee.. Lee Seol kentut saat itu juga.. Ia menatap polos Park Hae Young, matanya seolah-olah bilang -antarkan aku ke kamar mandi.- hihiii..
Park Hae Young menunggu Lee Seol di depan kamar mandi. Tidak berapa lama kemudian Lee Seol keluar, Park Hae Young membantunya membawakan cairan inpus Lee Seol. Saat hendak kembali ke ruangannya, tiba-tiba ada seorang ibu yang tengah memohon pada suster di rumah sakit. Ibu itu menggendong seorang anak lalu berkata dengan sungguh-sungguh, "Aku datang ke sini karena anaku sakit demam tinggi." Anak yang digendongnya menangis keras.
"Ibu, sudah tidak ada tempat lagi di rumah sakit ini. Kalau kau sangat terburu-buru, kau bisa pergi ke UGD rumah sakit lain." jawab perawat.
"Tapi, ini rumah sakit yang terdekat. Aku memohon padamu. Aku mohon. Anaku sangat panas. Aku khawatir." Ucap ibu itu seraya menenangkan anaknya tidak berhenti menangis.
"Tapi, semua tempat di rumah sakit ini penuh."
Lee Seol dan Park Hae Young melihat kejadian itu, Lee Seol merasa iba, ia lalu berkata pada Park Hae Young, "Bukankah perawat itu berkata seperti itu karena tidak ada lagi ruangan di rumah sakit ini, betul kan?"
"Ya.." jawab Park Hae Young.
Lee Seol lalu berkata pada perawat, "Permisi. Aku akan keluar rumah sakit."
Park Hae Young terkejut mendengar ucapan Lee Seol.
"Aku sudah tidak apa-apa, aku kuat." jawab Lee Seol pada perawat itu.
Park Hae Young dan Lee Seol benar-benar keluar dari rumah sakit, mereka menuju ke mobil. Keadaan Lee Seol tidak begitu baik. Efek memar yang ada di tangan kanannya mulai bereaksi. Badan Lee Seol bertambah lemas dan tiba-tiba saat hendak menuju mobil, Lee Seol tidak sadarkan diri. Park Hae Young panik, "Kau tidak apa-apa? Ah, kenapa seperti ini, Ayo kita kembali ke dalam."
Setengah sadar, Lee Seol berkata, "Ruangan sudah penuh."
Park Hae Young panik dan cemas. Ia membawa Lee Seol ke rumahnya, Park Hae Young melajukan mobilnya dengan cepat. Sesampainya di rumah, Park Hae Young menggendong Lee Seol lalu merebahkannya di atas kasur. Ia memeriksa panas Lee Seol. Lee Seol demam tinggi. Park Hae Young segera mengkompres Lee Seol. Wohoo.. Oppa panik. Ia bahkan tidak memperdulikan kantuknya, ia terus menjaga Lee Seol. Park Hae Young beberapa kali mengganti kompres. Kemudian, panas Lee Seol mulai turun. Park Hae Young tersenyum lega..
Park Hae Young menyiapkan makanan untuk Lee Seol. Lee Seol terbangun, ia berjalan lemas keluar kamar. Lalu ia mendapati Park Hae Young yang tengah memasak. Park Hae Young menyuruhnya duduk karena sarapan akan segera disediakan.. Lee Seol duduk, kemudian Park Hae Young menyiapkan bubur. Park Hae Young menyuapi Lee Seol. Perhatian Park Hae Young membuat Lee Seol curiga. Kemudian Park Hae Young berkata kalau saat ia merawat Lee Seol, semua yang ia lakukan adalah murni dan jujur. Park Hae Young menyuruh Lee Seol untuk berganti pakaian.
Park Hae Young menyalakan TV dan berita tentang kejelekan ayah Lee Seol kembali tersiarkan. Di dalam kamar, Lee Seol yang tengah berganti baju mendengar berita itu. Tanpa sengaja Lee Seol juga menemukan sebuah dokumen. Dokumen yang membuatnya marah, dokumen itu berisi laporan-laporan tentang kejelekan ayahnya. Park Hae Young yang memiliki dokumen itu. Lee Seol segera keluar kamar lalu dengan kesal, ia melemparkan dokumen itu pada Park Hae Young. Lee Seol lalu pergi meninggalkan rumah Park Hae Young. Tanpa di sangka di depan rumah, Kakek dan beberapa mobil tengah menunggu Lee Seol.
Kakek mengajak Lee Seol untuk menemui President. Lee Seol menatap sinis ke arah Park Hae Young, lalu ia pergi bersama kakek untuk menemui President.
Lee Seol menemui President, membicarakan tentang pembentukan kembali keluarga kerajaan. President berharap kalau Lee Seol bisa melakukannya dengan baik.

Selesai bertemu dengan President, Lee Seol kembali menemui kakek. Lee Seol harus membuat keputusan, kalau ia ingin memulai, maka ia harus memulainya dengan sungguh-sungguh. Pembentukan keluarga kerajaan bukan sebuah permainan. Lee Seol harus memutuskan, ia ingin kembali ke rumahnya atau memasuki istana. Demi menjernihkan nama baik ayahnya, Lee Seol memilih untuk kembali ke istana.

Lee Seol kembali memasuki istana. Kali ini, keputusannya adalah ia akan benar-benar tinggal di istana dan menjadi Princess. Lee Seol lelah, ia lalu tertidur. Sebelum terlelap ia membayangkan Park Hae Young ada di sampingnya. Lee Seol membayangkan Park Hae Young yang tengah mengelus-elus rambutnya dengan lembut. Lalu kemudian terlelap.
Hahaa... Itu bukan cuma bayangan, tapi lebih tepatnya bayangan yang menjadi kenyataan. Pagi-pagi sekali, Park Hae Young sudah berada di kamar Lee Seol. Park Hae Young berada tak jauh dari Lee Seol yang tengah tertidur. Perlahan Lee Seol membuka mata. Ia melihat sekilas ke arah Park Hae Young, Lee Seol pikir itu adalah ilusi Park Hae Young, jadi Lee Seol kembali memejamkan matanya.
Kemudian, Park Hae Young berkata "Hello, Princess. Aku Park Hae Young dari bagian departemen luar negeri dan perdagangan."
Mendengar suara itu, Lee Seol terkejut setengah mati. Hahaa.. Ia langsung terduduk lalu menyelimuti dirinya dengan selimut.
Hellow, Park Hae Young kembali ke istana dan ia siap menjadi tutor Lee Seol. Untuk menjadi seorang Princess, banyak hal yang tidak dimiliki oleh Lee Seol. Jadi, perlu adanya seorang guru yang membimbingnya dan Park Hae Young yang bertanggung jawab atas pendidikan Princess Lee Seol.

No comments:

Post a Comment