Monday, May 30, 2011

dalam perlindungan yang maha kuasa ( in the protection of the almighty )


 INDONESIAN :
Dahulu, di Tanah Alas ada sebuah kerajaan.Ibukota kerrajaan itu di Kampung Ngkeran. Raja memerintah dengan bijaksana. Kerajaan makmu dan rakyatnya hidup aman dan sentosa.
Dalam menjalankan roda pemerintahan. Raja dibantu Tande Wakil. Raja sangat percaya kepada pembantu utamanya itu.
Ketika raja berusia separuh baya, lahirlah seorang putranya. Raja berbahagia bersama permaisurinya. Pada saat memberi nama putra raja, seluruh rakyat diundang. Bahkan pada upacara itu diundang pula semua margasatwa.
Kini tibalah hari upacara pemberian nama putra raja. Tampak undangan yang hadir ramai sekali. Hadir pula semua jenis hewan untuk mengikuti upacara. Terdengar pembawa acara mengumumkan nama putra raja. "Nama putra raja adalah Layar." Semua orang bertepuk tangan tanda gembira. Selesai upacara, para undangan pulang.
Beberapa hari kemudian, Tande Wakil datang menghadap raja. Kepada raja disampaikannya, menurut firasatnya putra raja Layar kelak akan membawa bencana. Mendengar hal itu, raja terkejut. Kepada pembantu utamanya itu, raja minta pendapat tentang Layar.
Tande Wakil mengemukakan pendapat. Ia berkata kepada raja, "Coba kita masukkan dia ke dalam kandang ternak. Bila binatang ternak ini tak mau masuk kandang berarti putra raja benar-benar akan membawa bencana. Kalau memang akan membawa bencana, disingkirkan saja dia ke hutan."
Raja selalu percaya kepada pembantu utamanya, Tande Wakil. Saran ini pun disetujui raja. Dicobalah kebenarannya. Si Layar dimasukkan ke dalam kandang ternak. Ternyata binatang ternak tidak berani masuk ke dalam kandangnya karena si Layar terbaring di sana.
Setelah itu, disepakatilah si Layar dibuang ke hutan. Permaisuri sedih dan menangis menjerit-jerit. Namun, demi untuk kepentingan rakyat banyak, keputusan itu tetap dilaksanakan.
Begaimana nasib si Layar? Ia di pelihara dan dirawat binatang hutan yang hadir pada upacara pemberian namanya dulu. Hewan-hewan itu juga memberi berbagai keahlian dan pengetahuan kepada si Layar.
Usia si Layar sudah mencapai 8 tahun. Suatu hari, Ia pergi ke pinggir hutan. Di sana ia bertemudengan orang tua yang sedang berkebun.
Melihat si Layar, orang tua itu bertanya, "Hai anak muda siapa namamu, dimana tinggalmu?"
"Nama saya Layar. Saya tinggal di hutan," kata si Layar. Orang tua itu kemudian mengingat-ingat. Lalu, berkata,"O, saya ingat sekarang. Kalau begitu bukankah kau anak raja yang dulu dibuang ke hutan? O, nak ayahmu sudah meninggal. Ibumu masih hidup. Kerajaan sekarang diperintah oleh pakcikmu, orang tua Penghulu Mude."
Pada suatu hari, orang tua itu membawa si Layar ke istana raja. Lalu memperkenalkan si Layar kepada raja. Raja menyambut keponakannya dengan baik. Sejak itu, tinggal lah si Layar di istana bersama pakciknya.
Ketika tiba musim bersawah, diperintahkanlah si Layar bersama Penghulu Mude menggembala kerbau. Begitulah pekerjaan mereka dari hari ke hari.
Layar sendiri menggembala di bawah terik matahari. Makan pun berangsur dikurangi Makciknya. Kini si Layar sering makan nasi bercampur abu dan arang dapur. Untuk menambah makanan si Layar mencari daun pakis, rimbang, dan cendawan.
Si Layar senang menggembala kerbau. Gondok Limang dan Sawak Bunge begitulah nama kerbaunya. Pada hari panas terik, sering si Layar berlindung di bawah perut kerbau peliharaanya itu. Si Layar kadang-kadang tertidur. Lalu bangun setelah merasa perutnya lapar. Ia pergi mencari makanan dan kerbau pergi berkubang.
Ketika kembali, si Layar terkejut. Ia melihat kerbaunya mati. Ia ketakutan. Pada sore hari, kerbau lainnya dihalaunyake kandang. Kemudian, ia pergi ke istana dan menyampaikan berita itu kepada Pakciknya. Mendengar itu, raja marah lalu hendak memukul si Layar. Namun, cepat si Layar lari meninggalkan istana. Begitulah Layar menghilang bertahun-tahun.
Pada suatu hari, ada undangan kepada raja untuk menghadiri pesta mendirikan rumah adiknya yang perempuan, ibu Beru Dinem di kampung Natam.
Pada acara itu, hadir raja, Penghulu Mude, dan undangan lainnya. Beru Dinem telah menyiapkan tepung tawar. Dan pawang telah membawakan manteranya. Penghulu Mude dan Beru Dinem mulai menepung tawari tiang utama. Kemudian tali penegak mulai ditarik beramai-ramai. Namun, tiang tak bergerak sedikit pun. Hadirin heran. Dicoba lagi. Tetap tiang tak bergerak. Kemudian pawang mengatakan, tiang itu tak dapat dipaksa.
Tiba-tiba datang si Layar lengkap dengan pakaian adat kebesaran. Tantenya meminta agar Layar bersedia menepung tawari tiang utama berdua dengan Beru Dinem. Si Layar memenuhi permintaan tantenya. Setelah selesai, si Layar dan Beru Dinem memegang tali dan menariknya. Tiang utama perlahan-lahan terangkat untuk kemudian berdiri dengan megahnya. Hadirin terpaku melihat kejadian itu. Termasuk raja dan Penghulu Mude. Raja dan Penghulu Mude terasa terpukul. Lalu pulang tanpa pamit. Penghulu Mude bermaksud menghadang si Layar di Buluh Buang.
Malam itu, si Layar pulang ke rumahnya. Ketika melewati tikugan Buluh Buang, Penghulu Mude dan Raja menghujani dengan pukulan. Si Layar jatuh ke tanah. Raja dan Penghulu Mude pulang. Mereka menduga si Layar telah mati.
Malam itu juga tubuh si Layar dibawa makhluk halus ke tepian pemandian Beru Dinem.
Pagi hari ketika mandi, Beru Dinem melihat tubuh si Layar tergeletak di atas batu besar. Bersama ibu dan teman-temannya, si Layar di bawa ke rumah. Si Layar diobati hingga siuman. Berbulan-bulan lamanya, Layar tinggal bersama tantenya itu.
Penghulu Mude dan raja kemudian mengetahui bahwa Layar belum mati. Penghulu Mude bermaksud membunuh Layar. Ia merencanakan pergi bersama Layar membeli kerbau ke negeri Gayo. Sebelum berangkat, Beru Dinem berpesan agar dibelikan sepasang kerbau Gupik.
Dalam perjalanan itu, menjelang magrib mereka tiba di puncak pendakian Menggurah. Penghulu Mude menyarankan agar mereka bermalam di sana. Ketika si Layar tidur pulas, Penghulu Mude bangun perlahan-lahan. Lalu dijatuhkannya si Layar ke juarng yang sangat dalam.
Si Layar jatuh di Kali Alas. Kebetulan Siah Ketambe orang halus turun ke sungai mengambil air sembahyang. Melihat sosok orang diombang-ambingkan arus sungai, Siah Ketambe mengambil dan membawanya ke rumah. Setelah diobati, si Layar baik kembali.
Penghulu Mude yakin benar bahwa si Layar telah mati. Sebelum pulang, ia membeli berbagai keperluan dan pesanan. Penghulu Mude membayangkan betapa besar hati Beru Dinem menerima buah tangan yang dibawanya.
Sementara itu, si Layar dengan menunggang seekor harimau menuju Natam. Ia menunggu kedatangan Penghulu Mude. Di rumah Beru Dinem,si Layar berkisah tentang pengalamannya dengan Penghulu Mude.
Tiba di Natam, Penghulu Mude mengikatkan kerbau. Lalu berjalan menuju rumah Beru Dinem. Akan tetapi, ia sangat terkejut melihat si Layar sudah ada di sana.Untuk menghilangkan salah tingkah, Penghulu Mude mengatakan ia akan turun sebentar kalau-kalau kerbau diganggu anak-anak.Si Layar pun turun mengikuti Penghulu Mude.
Di halaman rumah, si Layar mengatakan kepada Penghulu Mude bahwa ia tak dapat dimaafkan lagi. Inilah saatnya untuk bertarung. "Kalau engkau yang benar, akulah yang mati. Dan kalau aku yang benar engkaulah yang akan mati."
Dengan pedang masing-masing di tangan,mereka pun mulai bertarung. Beberapa lama bertarung tiba-tiba pedang si Layar menyambar leher Penghulu Mude. Ia jatuh dan mati.
Beberapa bulan kemudian Layar dinikahkan dengan Beru Dinem di Natam. Pestanya meriah dalam upacara kebesaran.
Demikianlah si Layar yang sudah mengalami percobaan pembunuhan berkali-kali ternyata tetap selamat. Sebab anak muda itu dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena Senantiasa berada di jalan-Nya.

No comments:

Post a Comment